
SINGASANA, BALIPOST.com – Persoalan sampah kiriman sudah menjadi pemandangan rutin saat musim hujan hampir di seluruh pesisir pantai di Tabanan. Salah satunya di Pantai Kelating, Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Tabanan. Setiap musim hujan, pesisir pantai berpasir hitam ini berubah menjadi muara akhir sampah dari wilayah hulu yang terbawa aliran sungai menuju laut.
Kelian Dinas Banjar Dangin Pangkung, I Gede Pande Yuda Anggaresa, mengakui kondisi tersebut sulit dihindari. Intensitas hujan yang tinggi membuat volume sampah kiriman meningkat tajam dan menumpuk di sepanjang bibir pantai. “Masalahnya selalu berulang. Begitu hujan deras turun, sampah pasti datang berjubel-jubel ke pantai,” ujarnya, Selasa (20/1).
Tumpukan sampah didominasi kayu dan bambu. Hamparan pasir hitam yang menjadi ciri khas pantai nyaris tertutup material kiriman, membuat kawasan tampak kumuh dan tak nyaman untuk beraktivitas.
Anggaresa menyebutkan, berbagai upaya telah dilakukan warga bersama desa untuk mengatasi persoalan tersebut. Gotong royong rutin digelar, bahkan warga sempat menyewa alat berat untuk membersihkan dan mengubur sampah di area tertentu. Namun hasilnya tidak bertahan lama.
“Sudah terus dilakukan kegiatan bersih-bersih pantai tetapi hujan berikutnya datang sampah lagi. Selama dihulu belum tertib, pantai akan terus jadi korban,” tegasnya.
Selain melibatkan warga, penanganan sampah juga mendapat dukungan dari komunitas peduli lingkungan. Salah satunya Sungai Watch yang rutin membantu pengumpulan dan pengangkutan sampah plastik agar tidak mencemari laut lebih jauh. Di tengah kondisi pantai yang memprihatinkan, sebagian warga mencoba memanfaatkan sampah kiriman tersebut. Seperti yang dilakukan I Wayan Sundra, warga Banjar Dangin Pangkung, mengaku rutin memungut kayu dan bambu dari pantai untuk kebutuhan sehari-hari dan bahan kerajinan. “Satu sampai dua kali dalam seminggu saya ke pantai cari kayu dan bambu,” kata Sundra.
Kayu dimanfaatkannya sebagai bahan bakar memasak, sementara bambu diolah menjadi kelabang. Menurutnya, bambu bekas kiriman laut justru lebih kuat dan awet dibanding bambu baru. Kelabang hasil olahannya biasa digunakan masyarakat Bali untuk menjemur jajan begina atau uli keperluan upakara, dengan daya tahan hingga lima tahun.
Anggaresa kembali mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat, khususnya di wilayah hulu sungai, untuk tidak membuang sampah sembarangan. “Kalau dari hulu sudah tertib, kondisi pantai pasti jauh lebih baik,” pungkasnya.(Puspawati/balipost)










