
NEGARA, BALIPOST.com – Mesin RDF (refuse derived fuel) yang baru dibeli untuk pengolahan sampah di TPA Peh, Kaliakah masih dalam tahap perakitan. Rencananya mesin yang dibeli dari bantuan BKK Provinsi Bali senilai Rp 4 miliar tersebut akan diujicoba akhir Januari atau Februari 2026.
Dari pengamatan di TPA Peh, Sabtu (17/1), perakitan masih dilakukan sejumlah pekerja. Mesin ini ditempatkan di hangar lama (bekas gedung Pabrik Kompos). Sebagian bangunan yang sebelumnya merupakan gudang sampah anorganik yang dipilah TPST nantinya digunakan untuk pengoperasian mesin RDF tersebut. Hampir sebagian besar komponen termasuk instalasi listrik telah terpasang, hanya sisa cerobong dan heater (pemanas).
Sementara hangar yang baru dibangun senilai Rp1 miliar lebih tahun 2025 sudah selesai dibangun di sisi Timur TPA Peh. Namun rencananya gedung tertutup itu akan digunakan untuk pengembangan RDF.
Salah seorang pekerja yang ditemui mengungkapkan dalam waktu dekat mesin sudah bisa diujicoba. Beberapa tahap seperti pencacahan sudah bisa dilakukan, tetapi untuk pengolahan masih menunggu komponen lain. Mesin ini diharapkan dapat mengurangi tumpukan sampah di TPA Peh khususnya sampah anorganik yang saat ini sudah overload. Namun di tahap awal, untuk pengolahan sampah harian yang datang setiap harinya.
Sementara sampah harian yang datang terbuang ke TPA Peh saat ini berkisar 50-60 ton. Baik yang dari rumahan maupun dari instansi, perusahaan maupun tempat umum. Mesin RDF ini diperkirakan bisa mengolah sampah hingga 30 ton per delapan jam.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Perumahan dan Kawasan Permukiman Dewa Gde Ary Candra Wesnawa sebelumnya mengatakan mesin ini diharapkan dapat menangani sampah harian dan mengurangi tumpukan sampah saat ini di TPA Peh.
Diperkirakan, ujicoba dilakukan di awal tahun. Bilamana upaya pengurangan sampah organik dari masyarakat sudah dapat dilakukan melalui pengolahan sampah mandiri, volume sampah yang dibuang ke TPA diharapkan juga dapat berkurang. Sebab selama sekitar 60-70 persen sampah yang masuk adalah organik. Sisanya anorganik dan ketika konsep Teba modern (di masing-masing rumah tangga untuk sampah organik) dan mesin RDF diterapkan, diharapkan dapat mengurangi sampah di TPA yang saat ini masih open dumping. (Surya Dharma/balipost)










