
DENPASAR, BALIPOST.com – Sepanjang Januari–November 2025, Bali melakukan sejumlah impor untuk menopang aktivitas produksi dan usaha.
Dari data BPS, terdapat 5 besar komoditas impor yang diperlukan Bali dalam menunjang aktivitas produksi.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar menyampaikan, berdasarkan data, komoditas impor terbesar adalah mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya dengan nilai mencapai US$ 29,86 juta, atau sekitar 19,95 persen dari total impor Bali, dan tumbuh 27,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di posisi kedua, logam mulia dan perhiasan/permata tercatat senilai US$ 16,55 juta, naik 39,20 persen, yang berkaitan erat dengan kebutuhan industri perhiasan dan kerajinan berbasis ekspor.
Selanjutnya, perlengkapan elektrik dan bagiannya berada di peringkat ketiga dengan nilai US$ 14,86 juta, meskipun mengalami penurunan 31,42 persen.
Komoditas minyak atsiri, wewangian, dan kosmetik menempati posisi keempat dengan nilai impor US$ 9,50 juta, melonjak 71,94 persen, mencerminkan kuatnya kebutuhan sektor pariwisata, spa, dan industri kreatif.
Sementara itu, barang dari kulit samak melengkapi lima besar impor Bali dengan nilai US$ 8,96 juta, naik 18,74 persen.
Agus Gede Hendrayana menegaskan, komposisi impor tersebut menunjukkan kebutuhan riil perekonomian Bali. “Struktur impor Bali masih didominasi oleh barang-barang yang digunakan sebagai bahan baku, penolong, dan penunjang produksi. Ini menandakan bahwa impor berperan penting dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah, termasuk pariwisata dan industri terkait,” ujarnya.
Secara keseluruhan, nilai impor Bali periode Januari–November 2025 tercatat sebesar US$ 149,66 juta, relatif stabil meskipun sedikit turun 0,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lebih dari separuh impor tersebut berasal dari golongan bahan baku dan penolong, dengan porsi mencapai 54,06 persen.
Agus menambahkan, dominasi impor bahan produksi ini sejalan dengan karakteristik ekonomi Bali yang bertumpu pada sektor jasa, pariwisata, dan industri pendukung.
“Impor di Bali bukan sekadar konsumsi, tetapi lebih banyak untuk menjaga kelangsungan usaha dan aktivitas ekonomi. Ini penting untuk memastikan layanan dan produk yang dihasilkan tetap kompetitif,” paparnya.
Lebih lanjut ia memaparkan, untuki nilai impor barang Provinsi Bali dari luar negeri pada November 2025 tercatat berada di bawah capaian Oktober 2025, namun masih lebih tinggi dibandingkan November 2024.
Berdasarkan data terbaru, nilai impor Bali pada November 2025 mencapai US$ 15,21 juta, atau naik 8,80 persen secara year on year (y-on-y) dibandingkan November 2024 yang tercatat sebesar US$ 13,98 juta.
Kenaikan impor tahunan ini mencerminkan masih kuatnya kebutuhan pasokan barang dari luar negeri, terutama untuk mendukung aktivitas produksi dan sektor-sektor utama perekonomian Bali.
Dari sepuluh negara utama asal impor Bali pada November 2025, tujuh negara tercatat mengalami kenaikan secara tahunan. Kenaikan paling signifikan berasal dari Malaysia, yang melonjak hingga 2.590,14 persen, didorong oleh meningkatnya impor bahan bakar mineral.
Kondisi ini mengindikasikan meningkatnya kebutuhan energi dan input produksi, seiring berjalannya aktivitas ekonomi dan pariwisata di Bali. “Dari sisi komoditas, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya tercatat sebagai komoditas impor dengan nilai terbesar pada November 2025, yakni sebesar US$ 2,01 juta atau 13,22 persen dari total impor Bali,” ucapnya.
Dari sepuluh komoditas utama impor, sembilan komoditas mengalami kenaikan tahunan, dengan lonjakan tertinggi tercatat pada Tembakau dan Rokok yang meningkat hingga 431,32 persen. (Suardika/balipost)










