
DENPASAR, BALIPOST.com – Bali menjadi salah satu wilayah yang dipilih dalam mengembangkan Artificial Intelligence (AI) Center of Excellence. Selain Bali, pengembangan pusat AI ini juga dilakukan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Aceh, Makassar, Labuan Bajo, dan Papua.
Menurut Direktur IT Digital PT Telkom Indonesia Faizal Rochmad Djoemadi, dikutip Jumat (29/8) dari Kantor Berita Antara, tingkat kebutuhan AI di 9 wilayah ini cukup besar.
“Di sembilan kota besar itu, penggunaan AI meningkat pesat mulai dari UMKM, pengusaha, hingga pemerintahan, AI seakan menjadi fomo (fear of missing out, red) di kalangan mereka, tapi ini awal jangan-jangan sembilan titik tidak cukup atau tidak tepat sasaran, yang jelas kami ingin ada representasi dulu,” ujar Faisal Djoemadi.
Ia mengatakan pihaknya mulai mengembangkan pusat AI ini untuk menjawab permintaan dari berbagai kalangan. “Jadi ini berdasarkan permintaan, banyak permintaan perusahaan, UMKM, hingga pemerintah,” sebutnya.
Sementara itu, Direktur Enterprise & Business Service Veranita Yosephine menambahkan, wadah pusat AI memberi dampak bagi banyak sektor.
“Karena sudah banyak bekerja dengan industri, baik dari pemerintah atau swasta dan juga BUMN, kami melihat bahwa dampaknya ini luar biasa besar, produktifitas yang bisa dihasilkan dari sisi analisa data yang lebih akurat, pembuatan keputusan yang lebih baik, dan disertai juga kemampuan untuk mendorong inovasi,” kata Veranita.
Veranita menjelaskan kemampuan kecerdasan artifisial dalam menganalisa dengan presisi tidak memungkinkan jika harus dikerjakan manusia. Pihaknya mengambil posisi sebagai pembantu pelanggan menentukan kebutuhannya, kemudian menyelesaikan dengan bantuan AI.
Sebagai contoh pada UMKM, pemasangan CCTV AI bisa sangat membantu kinerja pelaku usaha. Sebab, kamera akan mengumpulkan data lewat rekaman yang menunjukkan letak produk usaha, waktu kedaluwarsa, pergerakan karyawan, jam-jam kunjungan pembeli, pergerakan barang keluar masuk, dan lain sebagainya.
Data ini kemudian menjadi acuan langkah yang harus diambil untuk mengembangkan UMKM tersebut, seperti halnya waralaba dengan jumlah ratusan toko yang tidak memungkinkan tenaga manusia menyelesaikan sendiri.
Dengan ini maka setiap usaha inklusif memiliki peluang yang sama untuk menjalani usahanya.
“Semua orang tidak lagi dibatasi oleh kapital yang mereka punya, solusi ini bisa universal untuk semua segmen kategori, buat saya itu luar biasa ya dari sisi ekonomi dan sosial,” ujar Veranita. (kmb/balipost)