Ilustrasi - Pemandangan pada salah satu pelabuhan logistik di China. Moneter Internasional (IMF) menyebut China akan terus menjadi kontributor utama bagi pembangunan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. (BP/Ant)

ISTANBUL, BALIPOST.com – Perkiraan kenaikan pertumbuhan ekonomi global dilakukan revisi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk tahun 2024 menjadi 2,7 persen dari perkiraan awal sebesar 2,4 persen pada Januari.

Revisi sebesar 0,3 poin persentase tersebut tergambar dari laporan Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia yang dirilis Kamis, sebagaimana dikutip dari kantor berita Antara, Jumat (17/5).

Perkiraan untuk tahun 2025 juga direvisi naik 0,1 poin persentase menjadi 2,8 persen dari ekspektasi bulan Januari sebesar 2,7 persen.

Baca juga:  Peremajaan Truk Pelabuhan, Hino Jalin Kerjasama dengan DPP Organda

“Prospek perekonomian global telah membaik sejak bulan Januari dengan negara-negara besar menghindari penurunan yang parah, sehingga menurunkan inflasi tanpa meningkatkan pengangguran,” kata laporan tersebut.

PBB juga turut memperingatkan bahwa suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, tantangan keberlanjutan utang, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, dan risiko iklim terus menimbulkan tantangan terhadap pertumbuhan global.

Tantangan tersebut dinilai akan mengancam kemajuan pembangunan selama beberapa dekade, terutama bagi negara-negara kurang berkembang.

Baca juga:  Pandemi, Perdagangan Narkoba di Asia Meningkat

“Revisi terutama mencerminkan prospek yang lebih baik di Amerika Serikat, di mana perkiraan terbaru menunjukkan pertumbuhan 2,3 persen pada tahun 2024 dan beberapa negara berkembang besar, terutama Brasil, India, dan Federasi Rusia,” menurut laporan itu.

Begitu juga dengan prospek China yang menunjukkan sedikit peningkatan dengan pertumbuhan diperkirakan sebesar 4,8 persen pada tahun 2024.

Di sisi lain, prospek Afrika telah memburuk degan perkiraan sementara pertumbuhannya turun 0,2 poin persentase pada tahun 2024.

Baca juga:  Penggunaan Ganja di Dunia Terus Meningkat

Begitu juga dengan pertumbuhan Turki yang diprediksi PBB melambat dari 4,5 persen pada tahun 2023 menjadi 3,2 persen pada tahun 2024.

“Devaluasi lira Turki yang cepat menambah tekanan inflasi, mendorong otoritas moneter mengambil tindakan pengetatan. Di tengah melemahnya permintaan domestik, yang juga menyebabkan berkurangnya impor, defisit transaksi berjalan menyempit pada awal tahun 2024,” tambah laporan itu. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *