Petani Garam Kelompok Sarining Segara di Desa Kusamba saat mengumpulkan hasil produksi garam. (Bp/Gik)

PULUHAN palung nampak berjejer rapi di tepi Pantai Kusamba, Klungkung. Tepat di cekungan palung itu, air laut di dalamnya sudah nampak mengering, mengkristal menjadi garam. Sejumlah petani garam mengumpulkannya ke dalam saringan untuk memisahkannya dengan sisa air laut. Hasil produksi garam dari hasil olahan secara tradisional ini sudah ditunggu pasar. Sayangnya, produksinya kerap diganggu hujan lebat saat pagi hingga siang hari.

Memasuki bulan September, para petani garam setempat mengakui cuaca sudah mulai membaik. Kondisi ini membuat petani garam mulai antusias memulai beraktivitas. Mereka rata-rata sudah tua dan hanya menggantungkan hidup dari pembuatan garam tradisional. Garam Tradisional Kusamba peminatnya memang tinggi dan beragam. Sebab tidak hanya sebagai bumbu dapur, konsumen juga menggunakannya sebagai bahan baku produksi kosmetik pada merek tertentu.

Baca juga:  Distan Sidak Bahan Pangan di Pasar

“Sekarang ini sebenarnya produksi garam kita sedang ditunggu. Tetapi, kami belum bisa berproduksi maksimal. Sejak awal September ini, dari pagi sampai siang itu lebih sering hujan. Kami masih bersyukur, dari siang sampai sore masih bisa beraktivitas,” terang Ketua Kelompok Petani Garam Sarining Segara Kusamba, Mangku Rena, Kamis (21/9).

Memasuki September ini diakui cuacanya memang sudah membaik. Dibandingkan saat Agustus, total kelompok petani garam ini tidak bisa berproduksi. Selain hujan lebat, air laut juga sering pasang. Situasi ini membuat mereka tak berkutik. Sehingga, memasuki September ini, stok mereka sempat menipis untuk melayani kebutuhan tinggi dari pasar. Dalam sehari, rata-rata Mangku Rena mengatakan bisa menghasilkan 15 kg garam.

Baca juga:  Ini Alasan Tiga Pasar Tradisonal Dibuka Untuk Pedagang Lokal

Dari pengalaman para petani garam, dari September akhir tahun ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk terus berproduksi, untuk menambah stok garam. Cuaca diharapkan semakin membaik, agar dalam proses pembuatan garam, bisa memaksimalkan mendapatkan sinar matahari. Demikian juga kondisi gelombang, diperkirakan akan semakin tenang, setelah fase puncak gelombang pasang terjadi selama Agustus lalu.

Proses produksi pada sisa bulan tahun ini, dikatakan akan dimaksimalkan, untuk menambah stok yang lebih banyak. Sebab, permintaan tinggi biasanya juga terjadi saat memasuki akhir tahun. Sejauh ini, Kelompok Petani Garam Sarining Segara masih bertahan dengan anggota 17 orang. Mangku Rena mengaku semakin khawatir dengan keberlangsungan pembuatan garam secara tradisional ini. Karena garis pantai di sepanjang Kusamba sangat rawan abrasi. Di bagian pantai yang lain, abrasi sudah semakin parah. Beruntung, pemerintah sudah menyikapinya dengan pembangunan tanggul pantai penahan abrasi.

Baca juga:  Tak Layak Operasi, Dishub Buat Master Plan Penataan Pelabuhan

“Tetapi, begitulah kita sebagai petani garam. Kalau tidak dipasang tanggul, garis pantai abis. Kalau dipasangi tanggul, aktivitas bertani garam juga terganggu, karena areal pantai untuk menjemur semakin berkurang. Kami-kami ini sudah tua, semoga masih tetap kuat. Karena ini pekerjaan kami satu-satunya,” tutup Mangku Rena. (Bagiarta/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *