Seorang warga tengah memandikan ternak babinya. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Peternak babi di Kabupaten Badung mulai kelimpungan. Sebab, harga pakan ternak mengalami lonjakan. Sebaliknya, harga daging babi justru sedang turun.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Badung Wayan Wijana saat dikonfirmasi Rabu (30/8), tak menampik perihal tersebut. Pihaknya telah meminta semua pihak duduk bersama mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. “Terkait harga babi yang cenderung menurun diakui oleh para peternak kami di Badung. Selain itu, harga pakan juga mengalami kenaikan,” ujarnya.

Baca juga:  Tampilan Kedua Setelah 41 Tahun, Sekaa Gong Genta Budaya Duta Badung di PKB

Menurutnya, turunnya harga daging babi diperkirakan akibat permintaan daging babi menurun pascahari raya Galungan, sehingga populasi babi pasca merebaknya virus ASF sudah semakin bertambah. “Mungkin karena babi populasinya banyak, sehingga harga terus menurun,” ucapnya.

Pihaknya mengakui harga babi memang sangat tergantung dari permintaan dan penawaran. Oleh karena itu, Dinas Pertanian dan Pangan sulit untuk melakukan intervensi. “Untuk masalah harga ini perlu duduk bersama dengan berbagai stakeholder untuk mencari solusi. Tidak bisa hanya di Badung saja menyelesaikan masalahnya,” ucapnya.

Baca juga:  Diterpa Merebaknya Isu ASF, Peternak Babi Alih Profesi

Untuk diketahui, harga daging babi turun pascahari raya Galungan. Sejauh ini harga babi masih stagnan di angka Rp30 ribu per kg sampai Rp33 ribu per kg. Besaran harga itu pun jauh dari harga normal atau kembali modal. Minimal dengan harga pakan naik, harga babi semestinya Rp40 ribu per kg.

Wijana mengakui, semua pihak harus duduk bersama sehingga muncul regulasi yang disepakati bersama. “Saat ini kami di daerah hanya terus berupaya untuk menjaga agar berbagai penyakit hewan dapat kita kendalikan dengan mempercepat vaksinasi PMK,” imbuhnya. (Parwata/balipost)

Baca juga:  Petani Babi Merana, Pemerintah Kemana?
BAGIKAN