Sejumlah warga Desa Pecatu, ketedunan Ida Batara, saat prosesi mendak hujan, Kamis (4/11) di pantai Labuan Sait, Pecatu. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Ratusan krama Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Kamis (4/11), kembali menggelar prosesi pemelastian di pantai Labuan Sait, untuk “mendak hujan” atau memohon hujan. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, di tengah pandemi Covid-19, tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun digelar setiap tahunnya pada Tilem Kalima menurut kalender Bali.

Pada pemelastian tersebut, terlihat nuansa spiritual. Puluhan warga secara bergantian mengalami ketedunan Ida Batara, sembari menancapkan keris ke bagian tubuh mereka.

Baca juga:  Gepeng di Kuta, Beralasan Mencari Biaya Hidup Karena Mengungsi

Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta mengaku, selama pandemi COVID-19, upacara ini tetap dilaksanakan. Ritual digelar sehari sebelum memulai masa bercocok tanam di desa itu.

Bahkan saat hujan sudah turun prosesi ini tetap dilaksanakan. “Setelah datang dari melasti ini ada istilahnya memiut, baru sehari setelahnya kami mulai bercocok tanam,” katanya.

Sumerta mengatakan, upacara pemelastian tersebut telah digelar turun-temurun sejak dahulu. Bahkan ia tidak mengetahui secara pasti kapan pertama kali dilaksanakan tradisi ini.

Menurutnya, prosesi ini diyakini untuk memohon hujan kepada Bhatara Segara atau Batara Baruna. Upacara ini digelar di penghujung musim kemarau atau lebih tepatnya pada Tilem Sasih Kelima kalender Bali.

Baca juga:  Warga Desa Pecatu Gelar Prosesi Memohon Hujan, Puluhan Kerauhan

Untuk prosesinya, diawali dengan melaksanakan ritual ungkap lawang atau membuka pintu niskala di Pura Dalem Selonding, dari prosesi itu kami mohon petunjuk dengan cara menghaturkan pejati. “Di sana kami mencari pawisik atau nyeraya ada tanda-tanda akan ada hujan atau tidak, baru nantinya kami melaksanakan melasti mendak sabeh (hujan),” bebernya.

Pada ritual ini, juga digelar prosesi nedunang Ida Batara yang bertujuan untuk menanyakan apakah upacara ini benar dilaksanakan atau tidak. Selain itu juga meminta petunjuk apa kira-kira kekurangan. “Sehingga kita di alam nyata ini dengan keterbatasan, maka kita memohon agar apakah upacara ini bisa berjalan sesuai dengan harapan,” ungkapnya.

Baca juga:  Sampah Kiriman di Pantai Labuan Sait Kesulitan Pengangkutan

Uniknya setelah pelaksanaan Melasti Mendak Hujan, dilaksanakan aci tabuh rah diaturkan di Pura Dalem, perempatan catus pata dan perempatan Durga. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *