Kadispar Provinsi Bali, I Putu Astawa. (BP/Win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah kembali mewajibkan tes PCR sebagai syarat penerbangan wisatawan ke Bali. Bagi pelaku usaha sektor pariwisata di Bali, aturan ini dituding menjadi penyebab pariwisata Bali berkembang lambat. Sebab, harga tes PCR cukup mahal ketimbang rapid test antigen. Kondisi ini pun membuat beberapa wisatawan domestik (wisdom) memutuskan batal berkunjung ke Bali.

Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Putu Astawa, membenarkan ada beberapa wisdom membatalkan kunjungannya ke Bali setelah syarat penerbangan wajib menggunakan tes PCR diberlakukan. Kendati demikian, pihaknya belum mengetahui seberapa banyak wisdom yang membatalkan berkunjung ke Bali pasca adanya aturan tersebut. Jumlah riil akan diketahui pada Jumat hingga Minggu (29-31 Oktober) mendatang. Sebab, beberapa bulan terakhir kunjungan wisdom ke Bali paling banyak terjadi pada pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Sehingga, jumlah wisdom yang membatalkan ke Bali akibat aturan tersebut akan diketahui setelah membandingkan jumlah kunjungan sebelumnya dengan kunjungan pada hari yang sama berikutnya.

Baca juga:  Orangtua Siswa Kembali Datangi DPRD Bali

“Kalau saya belum bisa membuktikan (jumlah batal kunjungan,red), karena biasanya Bali ramai dikunjungi itu pada hari Jumat sampai Minggu, sehingga kita baru melihat penurunan secara angka minggu depan. Kalau yang sudah cancel mungkin ada satu atau dua, mudah-mudahan itu tidak terlalu signifikan,” tandas Putu Astawa, Selasa (26/10).

Putu Astawa, mengatakan bahwa di dalam membangkitkan sektor pariwisata di Bali, pemulihan ekonomi dan kesehatan harus berjalan secara seimbang. Sehingga, pemerintah mengeluarkan kebijakan bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali melalui udara wajib tes PCR. Hal ini untuk mencegah terjadinya lonjakan penyebaran Covid-19 di Bali. Sebab, Bali akan menjadi tuan rumah beberapa event penting internasional pada tahun 2022 mendatang.

Baca juga:  Revitalisasi Pasar Banyuasri Dilakukan 3 Tahun Anggaran

“Pemerintah selalu melihat dari segala aspek, tidak hanya dari aspek ekonomi semata atau kesehatan semata, namun harus secara holistik melihatnya supaya kita bisa lebih aman di dalam mengelola perekonomian dan kesehatan ini,” ujarnya.

Putu Astawa pun menyambut baik rencana pemerintah yang akan menurunkan harga tes PCR hingga Rp 300 ribu. Wacana ini dinilai akan membantu meringankan biaya wisatawan berkunjung ke Bali. Sehingga, kunjungan wisatawan ke Bali tetap meningkat. “Untuk menyeimbangkan antara kepentingan kesehatan maupun kepentingan ekonomi, pemerintah sudah menurunkan harga (tes PCR,red). Mudah-mudahan itu akan menjadi solusi, kesehatan berjalan kemudian beban bagi wisatawan tidak terlalu beratlah dirasakan,” pungkas Putu Astawa. (Winata/Balipost)

Baca juga:  Maret 2019, Tiongkok Tempati Urutan Pertama Kunjungan Wisman

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *