Seorang warga negara asing berjalan menyusuri Pantai Kuta, Badung, Kamis (22/4). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pandemi COVID-19 yang melanda memberikan pelajaran pahit bagi Bali yang mengandalkan sektor pariwisata, terutama wisatawan mancanegara (wisman). Bahkan, akibat penguncian yang dilakukan berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, pariwisata Bali dipaksa istirahat sejenak.

Menurut pengamat pariwisata yang merupakan dosen pariwisata Universitas Udayana (Unud), Dr. Nyoman Sukma Arida, sudah saatnya Bali stop mendewakan wisatawan asing. Sebab, ia menilai dalam waktu dekat akan susah menggantungkan pariwisata dengan kedatangan wisman.

Untuk itu, industri pelaku pariwisata diharapkan bisa fokus menggarap wisatawan domestik. Hanya saja, diperlukan perubahan sikap dari pelaku industri pariwisata Bali untuk mengubah arah bisnisnya. “Perlu perubahan sikap bagi pelaku industri pariwisata di Bali,” katanya, dalam diskusi virtual dengan tema “Pariwisata dan Biro Perjalanan Wisata di Bali Paska Pandemi,” lewat aplikasi Zoom, Sabtu (21/8).

Dr. Nyoman Sukma Arida. (BP/iah)

Sukma menyebut dari berbagai penelitian dan riset yang dilakukan akademisi, ada semacam diskriminasi perlakuan antara wisman dan wisdom di Bali. Kondisi ini, dinilainya, tidak ditemui di luar Bali, seperti Yogyakarta dan Malang yang hampir tidak ada bedanya dalam memperlakukan wisman dan wisdom. “Ke depan tidak boleh terjadi lagi (diskriminasi perlakuan, red),” tegasnya.

Baca juga:  Aktivitas Gunung Agung Meningkat, Masyarakat Badung Diminta Waspada

Sukma yang juga fokus mengembangkan desa wisata ini mengutarakan salah satu potensi yang bisa digarap saat ini adalah staycation. Namun, nampaknya pelaku industri pariwisata Bali belum menggarapnya secara serius.

Ia menyebutkan staycation ini memang fenomena yang muncul di tengah pandemi saja, tapi dampaknya cukup bagus juga untuk pelaku usaha lokal. “Ada banyak kreativitas yang diciptakan sehingga masyarakat bisa memperoleh pendapatan dari munculnya fenomena ini. Seperti misalnya mendirikan glamping di sekitar danau,” ujarnya.

Sukma pun menyebutkan bahwa paskapandemi, Bali harus sudah memiliki konsep pariwisata ke depannya. Jangan lagi mengulangi kesalahan lama dengan bergantung pada mass tourism dan investasi besar-besaran. Melainkan harus menyeimbangkan antara pertanian, pariwisata, dan sektor UMKM.

Baca juga:  Naik dari Sehari Sebelumnya! Tambahan Kasus COVID-19 di Bali Capai Ratusan

Terkait upaya menggarap wisatawan domestik, salah satu pelaku biro perjalanan wisata, Putu Ayu Astiti Saraswati, mengakui potensi ini. Terlebih dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 271,3 juta jiwa.

Ayu Saraswati yang merupakan CEO Toya Yatra Travel ini mengatakan paskapandemi, satu setengah tahun berhenti, pasti ada perubahan-perubahan yang tidak disadari. Setelah pandemi, dalam jangka pendek wisatawan akan mulai dari domestic traveling dan short-haul (perjalanan domestik dan jarak pendek). Perjalanan akan dilakukan dalam grup kecil, keluarga, maupun individual.

Putu Ayu Astiti Saraswati. (BP/iah)

Ia pun mengatakan destinasi yang dekat dengan alam dan sudah tersertifikasi CHSE akan diminati. Termasuk, perhatian terhadap kesehatan meningkat dan pengalaman baru dalam berwisata menjadi hal yang penting.

“Olahraga menjadi hal yang diminati. Hiking dan climbing menjadi sebuah hal yang akan makin populer,” ujar Ayu Saraswati yang juga CEO Toya Devasya ini.

Wisatawan juga akan mencari destinasi yang ramah dan memiliki implikasi sosial terhadap lingkungan sekitar. Ia pun mengutarakan situasi ini merupakan kesempatan untuk berbenah dalam hal infrastruktur teknologi untuk otomatisasi dan efisiensi layanan. Sebab, pasar wisatawan sudah bergeser ke generasi milenial dan gen Z.

Baca juga:  KONI Bali Bersinergi dengan Olahraga Pendidikan dan Rekreasi

“Ada kesempatan yang bisa digarap dengan melakukan inovasi dan membangun infrastruktur teknologi untuk otomatisasi dan efisiensi proses dengan tidak meninggalkan human interaction. Memasuki market baru dan menggali tempat-tempat wisata baru dan bekerja sama dengan industri kerajinan untuk mengembangkan wisata edukasi sebagai alternatif leisure dan desa wisata (community based tourism),” sebut perempuan yang menjadi salah satu calon Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali ini.

Dalam hal ini, ia menekankan diperlukan kerja sama yang baik dengan pemerintah dan semua pihak. Sebab, tantangan ke depannya bukan lagi persaingan antarpengusaha melainkan Bali dengan destinasi lain dan negara lain di dunia. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *