Komang Lolik saat memperlihatkan lahan sayur gondo nya yang kini ditekuninya dengan serius, Kamis (7/1). (BP/Bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Pandemi Covid-19 tidak serta merta membuat Komang Lolik (32), pria asal banjar adat Menalun, banjar Dinas Lodalang, Desa Kukuh, kecamatan Marga hanya berdiam diri, ketika tidak lagi menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Justru yang ada, muncul ide ide kreatif untuk mengisi kekosongan sekaligus menambah sedikit penghasilan. Kini ia sibuk dengan aktivitasnya yang baru, menanam sayur gondo dilahan milik keluarganya.

Komang Lolik, adalah satu dari sekian banyak PMI yang terdampak dari pandemi Covid-19. Ditemui ketika sedang menggarap lahan pertanian gondo nya, ia mengaku saat ini belum mau mencoba peruntungan untuk kembali bergelut di sektor pariwisata, meski sudah banyak PMI asal Tabanan yang mulai berangkat ke luar negeri. Ia melihat, sektor pariwisata belum sepenuhnya pulih lantaran masih banyaknya kasus Covid disejumlah negara ditambah lagi munculnya berbagai varian baru. Lolik mengaku sangat menikmati aktivitasnya saat ini menjadi petani sayur gondo. Bahkan, ia pun mulai menambah usahanya yang baru, berupa peternakan ayam petelur.

Baca juga:  Agar Pasar Tradisional di Bandung Tetap Operasional, Mendag Tawarkan Solusi Ini

Pria yang hanya kuliah sampai dengan semester lima di STP Nusa Dua ini, awalnya memulai bekerja di luar negeri sekitar tahun 2010 di Singapura. Selama tiga tahun itu Lolik bekerja sebagai Casino Dealer, sebelum akhirnya di tahun 2013 memutuskan pulang kembali ke Bali. Di Bali, Lolik sempat juga bekerja selama sekitar satu tahun di wilayah Seminyak, Kuta, sebelum akhirnya untuk pertama kalinya atau tepatnya tahun 2014 memutuskan menjadi PMI dan bergabung di Carnival Cruise Line. Enam tahun meniti karir dari tingkat paling bawah yakni tukang cuci piring, hingga akhirnya terakhir di posisi Waitress, ia terpaksa pulang kembali ke Bali lantaran pandemi Covid19 yang mulai merebak di bulan Maret 2020. “Sempat nganggur sebulan, mulai berpikir apa yang mesti dilakukan apalagi punya istri dan dua orang anak, karena pribadi saya pantang mengemis,”ujarnya.

Baca juga:  Penyebaran COVID-19 Melonjak, Ini Kata Gubernur Koster Soal Obyek Wisata dan Wisdom

Akhirnya ia pun mulai menengok lahan sawah milik keluarganya. Diawali dengan menanam padi, namun hasil penjualan gabah dibandingkan dengan tenaga dan waktu serta biaya perawatan yang tidak sebanding, ia pun memutuskan beralih menanam sayur gondo tentunya dengan perlakuan organik. Dipilihnya gondo lantaran, selain pasarnya terbuka luas juga cepat panen. “Sempat gagal, bahkan sekarang pun pernah kadang kadang masih gagal juga, karena saya belajar sendiri dari nol, terus saya coba, dan setelah tiga bulan selanjutnya baru mulai bisa merasakan panen. Untuk panen baru bisa sekali dalam rentang waktu tiga hari,”jelasnya.

Untuk pemasaran dari panen sayur gondo hasil lahannya ini, awalnya ia bersama istri yang langsung menjualnya ke pasar dengan harga yang lebih bersaing. Dan kini dengan mulai banyaknya kenalan, akhirnya sudah mulai ada pengepul yang datang mencari hasil panen ke rumah, tanpa lagi ia bersama istrinya menawarkan ke pasar. “Sekarang sudah ada pengepul kebetulan di Banjar tetangga ,jadi tidak kewalahan lagi untuk tenaga dan diambil dengan harga yang sama seperti sebelumnya dijual ke pasar, rata-rata sekali jual bisa dapat Rp 150- Rp 220 ribu,”jelasnya.

Baca juga:  Dari Akumulatif 49 Positif COVID-19 di Bali, Komposisinya Seperti Ini

Ia pun mengaku sangat menikmati usaha barunya ini, dan belum terpikir untuk kembali menjadi PMI. “Mencari rotasi waktu biar sehari bisa panen gondo dan dipasarkan, kalau udah dapat diserahkan ke kerabat untuk dilanjutkan, baru kemungkinan berangkat lagi ke luar Negeri, sekarang masih menikmati usaha baru dulu,”pungkasnya.(Puspawati/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *