Didik Mukrianto (kiri) bersama Made Erawan. (BP/Istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Indonesia dipastikan menjadi tuan rumah kejuaraan rugby Asia bertajuk Trofi Asia. Sejauh ini, event bergengsi rugby ini belum diputuskan lokasi pertandingannya.

“Alternatifnya mengambil venue di Jakarta atau Bali. Namun jika dihelat di Pulau Seribu Pura ini, dipastikan kontestannya cukup banyak sebab nama beken Pulau Dewata ini layak dijual di kancah internasional,” tegas Ketua Umum PB Persatuan Rugby Union Indonesia (PRUI) Didik Mukrianto, di Gianyar, belum lama ini.

Didik menilai, cabor rugby tergolong baru di Indonesia. Bahkan, baru resmi menjadi anggota KONI sejak 2017.

Baca juga:  Diminta Segera Realisasi, Penataan Pantai Candidasa-Buitan

“Saya yakin rugby potensial dikembangkan di Indonesia, mengingat jumlah SDM plus wilayah Nusantara yang luas,” sebutnya.

Meskipun merupakan olahraga baru, tim Indonesia ikut berpartisipasi pada SEA Games, di Malaysia (2017). Alhasil, Timnas Merah Putih menduduki peringkat keempat.

Dalam perkembangannya, tim putri Indonesia untuk level Asia menduduki peringkat kelima dari total peserta 48 negara, sedangkan tim putra bercokol di urutan ke-12. “Untuk SEA Games di Vietnam, November nanti, cabor rugby tidak dipertandingkan,” tuturnya.

Bagi Didik, Bali merupakan kenangan tersendiri bagi perkembangan rugby Asia. Apalagi, Presiden Rugby Asia terpilih menjabat posisi terhormat dalam pemilihan di Bali, pada 2020.

Baca juga:  Rugby Masuki Masa Pra Kompetisi

Selain itu, Bali juga merupakan destinasi wisata, hingga menyebabkan olahraga ini bisa berkembang pesat. Menurut dia, rubgy menitikberatkan pada rasa solidaritas, semangat, integritas, disiplin, serta respek. “Jadi, seandainya terjadi keributan di lapangan, saya yakin tidak berlangsung lama,” tandasnya.

Di beberapa belahan negara, Didik mengakui, rugby termasuk olahraga favorit dan menduduki peringkat ketiga, setelah sepak bola dan basket.

Di sisi lain, Ketua Umum Pengprov PRUI Bali Made Erawan menyatakan, selama pandemi covid-19 ini, pengembangan rugby di Bali terkendala dilarang bersinggungan antarpemain. Namun untuk tim putri yang lolos ke PON Papua, tetap berlatih dengan menaati protokol kesehatan.

Baca juga:  Blood and sport: the samurai slashing that brought rugby to Japan

Yang membanggakan, PRUI sudah terbentuk di seluruh kabupaten dan kota. Malahan pengkab dan pengkot PRUI serta klub merupakan ujung tombak pembinaan. “Kami di Pengprov PRUI sama sekali tidak punya atlet,” sebutnya.

Ke depan Erawan optimis rugby berkembang di Bali, mengingat olahraga ini selain mencapai prestasi, juga mendukung program sport tourism. (Daniel Fajry/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *