Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo di Bandara Maumere NTT, Senin (5/4). (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Korban bencana siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih kekurangan tenaga dokter. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers secara virtual bersama dengan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi dan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur.

“Adapun untuk fasilitas kesehatan di hampir semua tempat sudah tersedia, walaupun tenaga dokter masih terbatas,” kata Doni Monardo di kabupaten Lembata, NTT, dikutip dari kantor berita Antara, Selasa (6/4).

Kementerian kesehatan di bawah pimpinan dari Kapuskris Kemenkes (Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan) sudah melakukan koordinasi untuk mendatangkan sumber dokter dari beberapa provinsi termasuk dari Sulawesi Selatan dan juga Jawa Timur.

Sedangkan obat-obatan sementara masih terpenuhi kecuali alat-alat untuk merawat pasien patah tulang. “Kami sudah berkoordinasi untuk segera didatangkan dari Jakarta dan Surabaya serta dari Makassar,” tambah Doni.

Baca juga:  Sistem Terpadu "Bersatu Lawan COVID-19" Diluncurkan

Akibat badai siklon tersebut, menurut Doni, ada 11 daerah di NTT yang terdampak yaitu kota Kupang, kabupaten Flores Timur, kabupaten Malaka Tengah, kabupaten Lembata, kabupaten Ngada, kabupaten Alor, kabupaten Sumba Timur, kabupaten Rote Ndao, kabupaten Sabu Raijua, kabupaten Timor Tengah Selatan dan kabupaten Ende. Sedangkan di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ada kabupaten Bima yang terkena dampaknya.

“Untuk data korban masih fluktuatif, ini data yang dihimpun dari pemerintah daerah kabupaten dan provinsi dan juga dari Polri sehingga kemungkinan ada perubahan setiap waktu. Untuk sementara korban jiwa yang meninggal sekitar 81 orang tapi data akan berubah setiap jam dan yang masih dalam pencarian 103 orang,” tambah Doni.

Menurut Doni, dua kabupaten terparah akibat bencana adalah pulau Adonara yang masuk di kabupaten Flores Timur dan kabupaten Lembata.

Baca juga:  Razia Tempat Hiburan, 45 Warga Terjaring

“Masih ada sejumlah korban hilang dan belum ditemukan, sementara yang rusak berat baik dari Alor, kemudian Lembata dan Adonara total jumlahnya mendekati 500 unit. Barusan pak bupati mengatakan di Lembata rumah yang rusak berat di Lembata berjumlah 224 unit, rusak sedang 15 unit, rusak ringan 75 unit,” ungkap Doni.

Terdapat dua desa di Lembata yang terdampak paling besar berada di kaki gunung Ile Lewotolok. “Seharusnya dalam beberapa waktu terakhir pemerintah daerah sudah merencanakan untuk merelokasi warga di sana, namun karena bencana siklon ini akhirnya terdampak paling banyak,” kata Doni.

BNPB dan Kementerian PUPR menurut Doni akan membuat rencana agar warga dapat direlokasi. “Berikutnya tim gabungan dari Kemensos dan TNI/Polri telah membangun dapur lapangan di hampir semua titik sehingga diharapkan tidak ada masyarakat yang tidak mendapat pasokan logistik,” ungkap Doni.

Baca juga:  Logistik Ini Diperlukan Pengungsi Balita

BNPB telah menyiapkan sejumlah helikopter yang terdiri dari heli Mi8, heli Kamov 32 A, heli EC-155 (berada di Larantuka); heli AW 119 dan heli Bell 412EP (berada di Kupang) serta 4 helikopter masing-masing di Lembata, Larantuka, Adonara dan Kupang.

“Hari ini sudah tiba dua unit dan mungkin sebentar lagi tiba di Kupang, dua unit lagi menyusul. Heli-hali ini akan digunakan di Lembata, Larantuka dan Adonara serta nantinya untuk membantu mobilisasi logistik dari Kupang ke Malaka termasuk ke Alor,” ungkap Doni.

Selanjutnya BNPB juga menyiagakan satu pesawat kargo di Kupang untuk membantu logistik baik ke Lembata atau kawasan lain yang membutuhkan. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *