Suasana di Bandara Ngurah Rai di tengah pandemi COVID-19. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Badung tak lagi bisa hanya mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam kondisi Pandemi COVID-19 ini Badung perlu inovasi baru guna mendongkrak pendapatan dari sektor pariwisata yang lumpuh.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua I DPRD Badung, I Wayan Suyasa, Rabu (31/3). Menurut politisi asal Penarungan, Mengwi ini dengan adanya terobosan atau inovasi baru, kedepannya PAD Badung tidak selalu bergantung pada industri pariwisata.

“Selain pariwisata, melihat masih ada potensi dapat dikembangkan lagi. Sebab, kalau berbicara tentang pariwisata saat ini memang sangat susah, sehingga perlu inovasi baru, seperti halnya pertanian dalam arti luas,” ungkapnya.

Baca juga:  Era Adaptasi Kebiasaan Baru, Pemkot Verifikasi Usaha Pariwisata

Menurutnya, pengembangan pertanian dalam arti luas tidak hanya terpaku pada lahan basah, melainkan sektor perkebunan dan peternakan. Kendati dalam mewujudkan sektor ini tidak mudah, namun ada peluang untuk dikembangkan dengan melibatkan pihak ketiga.

“Memang saat ini untuk menjalankan suatu inovasi akan sangat sulit, kecuali pemerintah dapat bekerjasama dengan investor atau pihak ketiga,” tegasnya.

Untuk itu, kata politisi Golkar ini pemerintah daerah harus mampu memberikan garansi atas investasi yang dilakukan, menyediakan SDM yang unggul dan tentunya wilayah yang akan dikembangkan. “Sehingga nantinya akan ada profit di satu sisi untuk masyarakat dan pemerintah tentunya,” katanya.

Baca juga:  Perkuat Pariwisata dengan Pajak Turis

Di sisi lain, Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa mengatakan sejatinya upaya pemulihan ekonomi desa telah dilakukan Pemkab Badung dari beberapa bulan lalu. Salah satunya, dengan mendorong sektor pertanian dalam arti luas, meliputi pertanian pangan, kelautan, perkebunan, horti, dan sebagainya.

“Kita mencoba membina dan menggairahkan kembali sektor-sektor pertanian di Kabupaten Badung, setidaknya untuk mewujudkan kemandirian pangan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga telah mulai memberikan pelatihan kepada pelaku Industri Kecil Menengah (IKM). Bahkan, pihaknya menyebut telah melakukan riset kecil terkait kebutuhan IKM di masa pandemi ini.

Baca juga:  Bukit Menoreh Dibelah untuk Persingkat Rute ke Borobudur, Ditarget Rampung 2022

“Pertama, IKM ini butuh pengetahuan tentang marketing. Kedua, mereka ingin diajari menggunakan teknologi informasi terutama tentang marketplace agar bisa berdagang online. Kemudian, juga butuh diajari soal packaging,” pungkasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.