Kadek Suartaya. (BP/Istimewa)

Oleh Kadek Suartaya

“Hanoman masak takut disuntik,” ujar Presiden Joko Widodo disertai tawa khasnya saat meninjau vaksinasi massal 16 Maret 2021, di Puri Saren Ubud, Gianyar. Tokoh Hanoman dalam cerita Ramayana tak punya urat takut, apalagi takut disuntik.

Jokowi yang akrab dengan cerita pewayangan, yakin kera putih ini tak mungkin kecut dengan jarum suntik vaksinasi. Dan penari Hanonam, Anak Agung Gde Putra pun akhirnya disuntik. Hanoman yang divaksin berkaitan dengan upaya pembentengan dari pandemi ini, kiranya menyembulkan makna kontekstual, memancarkan suatu asa gairah hidup.

Sejatinya, putra Dewi Anjani ini memang ditakdirkan sebagai pemberi harapan. Coba simak kembali lembaran epos Ramayana. Kesanggupannya untuk menemukan Sita yang disembunyikan Rahwana di Alengka, menggeliatkan harapan nan berbinar bagi Rama yang sangat rindu dengan istrinya. Kemudian, keberanian Hanoman membakar kerajaan Alengka juga menggelorakan moral Rama dan pasukan keranya untuk membasmi keangkaramurkaan Rahwana Si Dasamuka.

Baca juga:  Sensus Penduduk dan Arah Pembangunan Bangsa

Kisah keperkasaan tokoh kera Negeri Kiskenda ini, meluluhlantakkan Kraton Kerajaan Alengka. Di Bali, masyarakat penggandrung pertunjukan wayang kulit, meneladani tokoh protagonis ini lewat wayang Ramayana dengan lakon yang mengacu pada cerita Ramayana.

Kesetiaan, keberanian, dan kehebatan Hanoman sering disajikan dramatari bertopeng ini. Dengan menggunakan topeng kera putih, tokoh Hanoman biasanya dibawakan penari yang memiliki skil tinggi dan tenaga yang besar.

Penghormatan kepada Hanoman juga diekspresikan masyarakat Hindu Bali dalam ornamen suci yang diusung dalam lukisan pada kober (bendera) dengan sebutan Marutsuta. Lebih dari itu, begitu terkagum-kagumnya masyarakat penonton dengan Hanoman sehingga tidak sedikit yang mengait-ngaitkan dengan sesuatu yang bersifat magis.

Pis bolong atau uang kepeng yang hingga kini digunakan dalam ritual keagamaan,  ada yang bergambar tokoh-tokoh dari jagat pewayangan seperti  Hanoman, Bima, Arjuna, Kresna, Malen hingga Sangut. Bila uang kepeng Arjuna dianggap mampu membuat pemegangnya tampak tampan yang membuat gadis-gadis kepincut, sedangkan uang kepeng Hanoman dipercaya menjadikan pemiliknya bertenaga, kuat, berani bahkan ringan tubuhnya saat meloncat.

Baca juga:  Sembilan Warga Desa Batuan Digigit Anjing Rabies

Di India, Hanoman bukan hanya bersemayam dalam seni sastra dan seni pertunjukan. Di Negeri Martabak itu, tokoh Hanoman dianggap dewa. Sejumlah kuil yang tersebar di tanah Hindustan itu  dikeramatkan komunitasnya sebagai tempat suci pemujaaan tokoh Hanoman seperti kuil Sri Hanuman Vatika (Orissa), Jhaku (Himachal Pradesh) dan kuil Hanumangarhi (Ayodia).

Sendratari Ramayana, sejak tahun 1960-an, baik di Jawa atau pun di Bali, semakin mencuatkan Hanoman di tengah masyarakat masa kini. Sayang, belakangan ketika pandemi Covid-19 mencengkeram jagat, Hanoman tiba-tiba menghilang, khususnya di tengah sengkarutnya jagat kepariwisataan.

Pariwisata budaya Bali sungguh timpang tanpa kesenian, yang di dalamnya melibatkan kiprah tokoh Hanoman. Dua seni pertunjukan wisata yang menonjolkan Hanoman adalah Sendratari Ramayana dan pementasan cak. Namun apa daya, dalam keterpurukan pariwisata Bali setahun ini, kedua seni pertunjukkan yang banyak diminati pelancong tersebut ikut tiarap.

Baca juga:  Perempuan sebagai Ibu Bangsa

Tetapi, masih ada harapan. Vaksinasi massal Covid-19 yang berlangsung di Ubud, disaksikan Presiden Jokowi, bagaikan sebuah prolog simbolik dari harapan bangkitnya kembali dunia kepariwisataan Bali. Optimisme ini mirip, ketika Hanoman bersama kawan-kawannya divaksin dengan Latamahosadi setelah lumpuh diterjang senjata sakti nagapasa milik Indrajit, anak Rahwana.

Tumbuhan berkasiat itu berhasil menyembuhkan segenap pasukan Rama pulih kembali dan kian semangat menggempur musuh. Dipilihnya Ubud sebagai awal vaksinasi massal untuk destinasi wisata di Bali juga sarat filosofi, karena Ubud berarti ubad (obat). Semoga, Hanoman (kesenian), pariwisata Bali dan nestapa masyarakat dunia pulih.

Penulis Pemerhati Seni Budaya, Dosen ISI Denpasar.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.