dr. Erika, Sp. JP, FIHA. (BP/iah)

DENPASAR, BALIPOST.com – Merawat pasien COVID-19 bukanlah perkara mudah. Terutama jika pasien itu memiliki penyakit penyerta, seperti jantung dan hipertensi. Setidaknya itu lah pengalaman yang dituturkan salah seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Erika, Sp. JP, FIHA, belum lama ini dalam streaming yang disiarkan kanal YouTube FMB9ID_ IKP.

dr. Erika mengatakan dirinya salah satu yang terlibat dalam menangani kasus COVID-19 dan bertugas di RS Pusat Pertamina (RSPP) punya RS khusus modular COVID-19. Kebetulan, ia memang banyak menangani penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Di awal mendapatkan surat tugas, konsekuensi saya sebagai dokter. Tapi jujur saya punya rasa takut juga. Rasa takut itu terkalahkan saat saya melihat pasien-pasien. Pengalaman merawat dari sakit hingga sembuh itu pengalaman yang sangat berharga,” ungkapnya.

Ibu dengan dua anak yang masih balita ini, mengaku cukup berat menjadi seorang dokter yang ditugaskan dalam penanganan pasien COVID-19. Namun, ia ketat menerapkan protokol kesehatan demi sang buah hati. “Setiap pulang, mandi dan mengganti baju yang bersih baru bertemu anak-anak. Saya juga rutin melakukan swab dan rapid untuk mengetahui kondisi karena rentan terpapar,” sebutnya.

Ia pun menceritakan suka duka selama merawat pasien COVID-19. Dukanya, ia sempat berpisah dengan anak-anak karena dirinya terpapar pasien positif COVID-19 sehingga harus melakukan tes. Sambil menunggu hasil tes itu lah ia harus menjalani isolasi mandiri. “Saya sempat deg-degan dan sedih. Perasaan campur aduk lah waktu menunggu hasil. Alhamdulilah saya diberikan kesehatan tetap bisa melayani masyarakat, membantu masyarakat. Mudah-mudahan bisa cepat berlalu (pandemi COVID-19, red).

Baca juga:  Perhatian Dunia Fokus ke Tiongkok dan Amerika Serikat

Diakuinya, pasien dengan komorbid jantung cukup besar. “Pengalaman saya selama menangani pasien COVID-19, komorbid jantung memang banyak. Dengan komorbid jantung pasien rentan mengalami perburukan dan infeksi. Rentan untuk bergejala. Komorbid jantung bisa sampai 70 – 80 persen,” ujarnya mengurai pengalamannya saat merawat pasien COVID-19.

Pasien COVID-19 dengan komorbid jantung menjadi lebih sulit dibandingkan perawatan pasien jantung saja. Tantangannya, dari sisi pasien cukup berat karena jauh dari keluarga, tidak bisa ditengok, dan tidak ditunggui. Terlebih tim medis menggunakan APD lengkap. “Tantangan sebagai tenaga kesehatan, kita harus menyemangati dari sisi psikologi. Pengalaman, jika psikologi bagus sangat-sangat menunjang proses penyembuhan,” sebut perempuan ini.

Ia pun mengatakan menjadi tenaga kesehatan yang bertugas di RS khusus penanganan COVID-19 tidak saja memberikan pengobatan secara medis, tapi juga bathin. “Ketika mereka (pasien, red) sembuh atau pulang, kita jadi merasa luar biasa,” katanya sambil tersenyum.

Ia menyetujui jika vaksinasi COVID-19 ini sangat dinantikan. Terlebih dirinya yang ada di garda terdepan dan memiliki anak-anak yang masih kecil. “Saya rasa kalau saya pribadi, kalau vaksin itu sudah diuji klinis dan melewati fase yang sangat banyak, saya yakin vaksin yang nanti diberikan sudah cukup aman diberikan ke kita. Saya rasa tidak perlu lagi ada keraguan,” katanya.

Baca juga:  Dari Buka untuk Wisman hingga Satpol PP Denpasar Datangi Gerai McDonald’s

Perempuan ini memastikan bahwa yang diberikan pemerintah adalah yang terbaik. “Kalau saya pribadi, ingin secepat mungkinlah,” tutupnya.

Lama Tak Berkumpul

Suka dan duka merawat pasien COVID-19 juga diungkapkan Lia Agustina, AMD, S.Kep. Ia yang bertugas di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet mengaku sudah lama tidak berkumpul dengan keluarga.

Awal mulanya karena penasaran COVID-19 itu seperti apa, perawat dari Lampung ini melamar jadi relawan di RSDC Wisma Atlet. Ia pun dinyatakan lolos dan harus ke Jakarta sejak April. “Jauh dari keluarga dan anak-anak. Saya niat untuk misi kemanusiaan dan mengabdi. Saya banyak mengenal orang-orang hebat sukarelawan dari sabang sampai Merauke,” katanya menuturkan pengalamannya bertugas di RSDC Wisma Atlet.

Lia Agustina, MDA.Kep (BP/iah)

Ia pun harus membiasakan diri menggunakan APD lengkap setiap saat. Penggunaan Hazmat 8-9 jam dan tidak makan, minum, serta ke toilet selama memakai hazmat. Bahkan, ada sejumlah rekannya yang menggunakan popok jika berdinas.

Lia mengaku ada suka yang dialaminya selama bertugas di Wisma Atlet. Namun, ada juga pengalaman tak melelahkan yang harus dilaluinya. Seperti, ketika listrik mati dan dia harus naik dari lantai 1 ke lantai 32 dengan menggunakan hazmat. “Di Wisma Atlet ada tiga shift. Pro kontra saat saya akan ke Jakarta pasti ada,” ujar istri dari seorang anggota Polri dengan 2 anak yang masih kecil ini.

Baca juga:  Kasus Baru Positif COVID-19 Per 21 Mei di Bali, 100 Persen Transmisi Lokal

Ia pun mengatakan suaminya sempat tidak mengizinkan karena takut sang istri tidak kembali. “Tapi karena saya tekadnya kuat, suami akhirnya mengizinkan,” terangnya dalam dialog yang disiarkan langsung di kanal YouTube FMB9ID_ IKP, Kamis (3/12).

Saat ini, sudah tujuh bulan dirinya tidak pernah pulang. Lebih banyak komunikasi dengan video call. “Video call tidak mengobati sepenuhnya, tapi niatnya dari awal misi kemanusiaan sehingga saya bisa mengatasi,” ungkapnya.

Ia pun sangat mendukung adanya vaksinasi COVID-19. “Saya sebagai tenaga medis yang setiap hari bertemu pasien COVID-19, sangat mendukung pengadaan vaksinasi ini. Berharap pandemi segera berakhir. Saya sangat mendukung sekali program vaksinasi ini,” tegasnya.

Ia berharap setelah ada vaksin pun, masyarakat bisa tetap menerapkan prokes 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak). Juga mendukung para tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan pandemi COVID-19. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *