Maestro Patung Garuda, Made Ada menunjukan karya seninya ditemui di Museum Made Ada Gallery. (BP/Nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Wabah Covid -19 sudah berdampak pada berbagai sektor, tidak terkecuali sektor kerajinan di Kabupaten Gianyar yang selama ini menjadi salah satu penunjang pariwisata. Maestro Patung Garuda, Made Ada asal Desa Adat Pakudui, Desa Kedisan Kecamtan Tegallalang berharap adanya perhatian pemerintah terhadap para seniman ditengah kondisi ini.

Seperti bantuan sembako atau membeli hasil kerajinan untuk pajangan di kantor pemerintah. Made Ada ditemui Selasa (26/5), mengatakan bahwa selama ini dirinya bersama dominan warga di Desa Adat Pakudui bergerak disektor home industri, yakni membuat kerajinan berupa ukiran kayu.

“Kami berkecimpung dengan home industri, membuat lapangan pekerjaan yang bisa bekerja dari rumah, itu sesuai himbauan sejak zaman pak Harto, disini di Pakudui dari kakek, bapak sampai saya, masyarakat sampai turis asing belajar mengukir, memang terus di rumah bekerja di rumah beraktivitas,” katanya.

Sektor kerajinan selama ini merupakan salah satu pendukung pariwisata. Namun kini akibat wabah COVID-19 sektor pariwisata yang mengalami kelesuan, langsung berdampak domino terhadap hasil karya para perajjin.

Sudah hampir tiga bulan para seniman tidak mempu menjual hasil produksi. “Pertengahan Maret sampai akhir Mei ini, kami tidak mendapatkan apa. Wisatawan sudah tidak ada baik asing maupun domestik, hasil produksi tidak bisa kami jual kemana, tidak ada pembeli, karena pariwisata tidak jalan,” katanya.

Dikatakan, sejumlah pelanggan yang selama ini berasal dari berbagai belahan negara tidak bisa mengambil hasil produksi para seniman, karena ditutupnya penerbangan hingga beberapa negara masih memberlakukan lockdown. “Yang namanya orang asing, alasanya negara memberlakukan lockdown,” katanya.

Dikatakan pihaknya sendiri sebelum wabah COVID-19, ia mempekerjakan antara 20 hingga 35 seniman. Namun sekarang yang datang bekerja antara 5 hinga 10 orang.

Diakui mereka tidak ada mengerjakan pesanan, namun hanya mengisi waktu dengan tetap berkarya. “Mengisi waktu kami membuat desain baru yang kiranya nanti bisa laku, jadi mereka yang bekerja bukan mengerjakan pesanan, tetapi mengerjakan kreativitas baru,” katanya.

Kini dengan keberadaan COVID-19, hampir 95 persen masyarakat di Desa Adat Pakudui kesulitan memenuhi kebutuhan dapur, karena tidak adanya pergerakan ekonomi. “Hampir 95 persen bekerja sebagai pematung, karena covid 19 kami membutuhkan bantuan pemerintah, bila perlu dicek ulang, berapa yang dapat dan tidak (bantuan pemerintah-red), karena semua sekarang sedang hidup susah,” katanya.

Ditengah kondisi ini pihaknya berharap ada perhatian dari pemerintah seperti bantuan sembako. Atau di tengah kelesuan ekonomi ini, pemerintah diharapkan dapat membeli hasil produksi para seniman, untuk pajangan di kantor pemerintah daerah. “Harapan kita untuk dibantu sembako, yang lainnya bagaimana pemerintah mencarikan solusi pemasaran, misal untuk pajangan hasil produksi di kantor-kantor, sehingga kami tetap bisa bekerja pelan, sekedar cukup untuk membeli beras,” tandasnya. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.