Peternak menyemprot disinfektan ke kandang babinya. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Pemkab Gianyar memastikan akan membeli ratusan babi yang masih sehat dari 11 desa yang terserang wabah mati mendadak. Bila dikalkulasi dengan nilai pasar daging babi Rp 26 ribu per kilogram, ratusan babi itu akan dibeli senilai Rp 1,3 miliar lebih.

Uang itu dihimpun dari uang tunjangan beras. Bupati Gianyar I Made Mahayastra mengungkapkan hal ini Minggu (16/2).

Dikatakan jajaranya sudah mendata sekitar 525 babi di 11 desa yang sempat terkena wabah. Meliputi Desa Lebih, Abianbase, Keramas, Kemenuh, Pejeng Kangin, Tampaksiring, Sebatu, Keliki, Taro, Melinggih, Singakerta.

Dari jumlah itu, masing-masing peternak ada yang memelihara 100 hingga 2 ekor babi. “Sudah didata 525 ekor babi,” tegasnya.

Dikatakan sampai Minggu siang, order babi masih berlangsung. Dipastikan proses pemotongan seluruh babi itu akan berlangsung pada Senin dan Selasa. “Jadi ini akan dipotong bersama menyambut hari raya Galungan,” katanya.

Pihaknya  pun sudah mengkalkulasikan, untuk pembelian 525 ekor babi ini akan membutuhkan biaya Rp 1.365.000.000. Untuk menghimpun anggaran itu,  dikerahkan seluruh organisasi perangkat daerah untuk berpartisipasi. “Kebijakan saya menggunakan uang tunjangan besar yang nilainya Rp 150 ribu diganti dengan daging babi,” ucapnya.

Namun ada juga OPD yang sudah memiliki tabungan, sehingga tidak perlu dilakukan penggantian tunjangan beras menjadi daging babi. “Kita ganti itu dengan 3 kg sampai 4 kg daging babi. Itu kebijakan saya, tapi ternyata mereka (OPD-red) ada yang sudah punya uang tabungan, sehingga ada yang sudah dibayar langsung. Kalau sudah dibayar langsung berarti tidak perlu kita potong lagi tunjangan berasnya,” katanya.

Bupati Mahayastra menegaskan petugas kesehatan hewan juga sudah dikerahkan untuk melakukan pengecekan kondisi ratusan ternak babi tersebut. Seluruh ternak itu dinyatakan sehat dan layak dikonsumsi. “Sudah dicek semua dan layak untuk dikonsumsi, nanti juga akan ada stempel dari Dinas Pertanian memastikan seluruh babi layak dikonsumsi,” jelasnya. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN