Sejumlah prajuru desa adat sedang mengurus pencairan dana desa adat. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Para Prajuru Adat di Bali mulai mengurus pencairan bantuan anggaran untuk desa adat masing-masing Rp 300 juta dari Pemprov Bali. Mereka tampak memadati Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali sambil membawa persyaratan pencairan, Jumat (17/1).

Bantuan anggaran yang kini langsung masuk ke desa adat disambut positif. “Sebagai krama, dana langsung turun ke desa adat ini lebih bagus dibanding dulu,” ujar Penyarikan Desa Adat Malet, Tampaksiring, Nyoman Sampun.

Sampun menambahkan, bantuan keuangan khusus untuk desa adat dulu masuk lewat kantor desa. Untuk mengurus pencairannya dikatakan lebih rumit.

Baca juga:  Danau Batur Mulai Normal, Petani Ikan Belum Berani Beraktivitas di KJA

Selain itu, anggaran baru bisa cair di bulan Desember sehingga menyulitkan proses pertanggungjawaban. Terutama saat anggaran itu dipakai untuk pembangunan fisik.

“Kalau sekarang katanya mungkin bulan April sudah bisa dicairkan,” katanya.

Sampun mengaku sudah menerima surat untuk datang ke Dinas Pemajuan Masyarakat Adat sejak empat hari yang lalu. Walaupun proses pencairan sekarang lebih mudah, tapi usulan terkait penggunaan bantuan itu kini diajukan lebih awal dan harus detail.

Baca juga:  Langgar Awig Desa Adat, Dua Warga Terancam Dikeluarkan dari Desa Adat Jero Kuta Pejeng

Apakah untuk pembangunan fisik, upacara, atau sekaa-sekaa dan berapa besarannya. “Sekarang mengurusnya lebih mudah. Cuma masyarakat itu belum dikasih contoh membuat proposal. Mestinya dikasih contoh dulu, baru dipanggil ke sini (dinas, red),” imbuhnya.

Menurut Sampun, dinas hanya memberikan panduan saja sehingga prajuru belum semuanya memahami. Sebagai contoh dirinya sendiri yang sudah datang dua kali ke Dinas Pemajuan Masyarakat Adat.

Sebab, proposalnya mesti diperbaiki. Padahal kalau sudah ada contoh, perbaikan proposal tentu bisa ditekan. “Mungkin karena baru pertama kali seperti ini, jadi masih bingung. Tapi dibanding dulu, sekarang sudah lebih bagus,” jelasnya.

Baca juga:  Telkom Gelorakan Energi Merah Putih di Bali

Bendahara Adat Temuku, Bangli, Nyoman Sarya mengatakan bantuan untuk desa adat yang terus meningkat setiap tahunnya dinilai cukup membantu krama khususnya di bidang pembangunan, upacara, dan sebagainya. Saat ini, pihaknya masih fokus membangun palinggih, candi, dan bale kulkul di Pura Kahyangan Tiga.

Di samping menggunakan bantuan tersebut untuk upacara pemelaspasan. “Kalau di desa kami, kahyangan-nya terlalu banyak dan pengemponnya cuma sedikit. Makanya fisiknya dulu diutamakan,” jelasnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.