Sejumlah seniman pentas saat Bulan Bahasa Bali. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 resmi ditutup di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali (Art Center) Denpasar, Sabtu (28/2). Hajatan budaya tahunan ini berlangsung selama sebulan penuh dengan mengusung tema “Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa”.

Namun demikian, masih terdapat sejumlah wilayah yang belum melaksanakan kegiatan Bulan Bahasa Bali VIII.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, mengungkapkan dari 1.500 desa adat di Bali, tercatat 12 desa adat belum menyelenggarakan kegiatan. Rinciannya, dua desa adat di Kabupaten Buleleng, satu di Badung, tiga di Klungkung, tiga di Bangli, dan tiga di Gianyar.

Baca juga:  Hujan Deras di Bangli Sebabkan Tanah Longsor dan Pohon Tumbang

Pada tingkat desa/kelurahan, sebanyak 45 dari 716 desa/kelurahan di Bali juga belum melaksanakan Bulan Bahasa Bali. Terdiri atas sembilan desa/kelurahan di Badung, tujuh di Jembrana, 11 di Bangli, 11 di Buleleng, enam di Gianyar, serta satu di Klungkung.

Sementara di sektor pendidikan, partisipasi tergolong tinggi. Dari 498 SMA/SMK di Bali, hanya tiga sekolah yang tidak melaksanakan kegiatan Bulan Bahasa Bali. Sedangkan 16 SLB di Bali seluruhnya berpartisipasi.

Baca juga:  Lembaga Peradilan Perlu Pahami Nilai Kehidupan Masyarakat Adat

Dikatakan, hajatan tahunan tersebut dimaknai sebagai altar pemuliaan bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai taman spiritual untuk membangun jiwa yang mahasempurna.

“Ini menjadi momentum seluruh lapisan masyarakat Bali untuk menjaga keberlanjutan kebudayaan serta identitas lokal di tengah arus modernisasi,” ujarnya.

Bulan Bahasa Bali VIII tahun ini menghadirkan beragam program edukatif dan kreatif. Tercatat 17 wimbakara (lomba), delapan kali sesolahan atau pementasan seni pertunjukan, dua widyatula (seminar), tiga kriyaloka (workshop), serta pameran Reka Aksara bertema “Transformasi Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali dalam Teknologi”.

Baca juga:  Kasus COVID-19 Melandai, Disdikpora Bali Sudah Putuskan akan Gelar Kembali PTM

Selain itu, terdapat program konservasi lontar (Raksa Pustaka), ruang belajar ramah anak, hingga diskusi sastra Bali yang melibatkan siswa SD hingga SMA serta masyarakat umum.

Penyelenggaraan tahun ini dinilai semakin menguatkan posisi Bulan Bahasa Bali sebagai gerakan kultural yang tidak sekadar seremonial, melainkan konsisten membangun kesadaran kolektif untuk menjaga bahasa ibu sebagai roh kebudayaan Bali. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN