
DENPASAR, BALIPOST.com – Perekonomian Bali pada triwulan III 2026 tumbuh 5,85 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, namun masih sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tumbuh 5,88 persen.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengatakan, berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan (ADHK), ekonomi Bali pada triwulan III 2026 mencapai Rp47,53 triliun. Nilai tersebut meningkat dari Rp44,91 triliun pada triwulan III 2025.
Sementara berdasarkan harga berlaku, PDRB Bali pada triwulan III 2026 mencapai Rp90,41 triliun. Dibandingkan triwulan II 2026, ekonomi Bali tumbuh 0,42 persen.
“Secara kumulatif, ekonomi Bali sampai dengan triwulan III 2026 tumbuh 5,74 persen,” katanya.
Agus mengatakan, secara tahunan pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang 2026 menunjukkan tren yang terus meningkat. Pada triwulan I pertumbuhan mencapai 5,58 persen, kemudian meningkat menjadi 5,78 persen pada triwulan II dan kembali naik menjadi 5,85 persen pada triwulan III.
Namun, pertumbuhan triwulan III 2026 masih sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan III 2025 yang mencapai 5,88 persen. Menurut Agus, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya tantangan terhadap perekonomian Bali pada tahun ini.
“Kalau dibandingkan dengan 2025, pertumbuhannya masih mengalami perlambatan. Triwulan III 2025 ekonomi Bali tumbuh 5,88 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2026,” kata Agus dalam pemaparan kondisi perekonomian Bali, Kamis (5/11).
Di tengah pertumbuhan tersebut, BPS mencatat sejumlah perkembangan yang turut mewarnai aktivitas ekonomi Bali selama triwulan III 2026. Catatan peristiwa tersebut terutama berkaitan dengan pariwisata, konsumsi masyarakat, aktivitas produksi, perdagangan dan pembiayaan.
Agus mengatakan, pariwisata dan konsumsi masyarakat masih menjadi dua aspek penting yang memengaruhi perekonomian Bali. Dari sisi lapangan usaha, ekonomi Bali masih sangat dipengaruhi oleh kinerja pariwisata, sedangkan dari sisi pengeluaran kontribusi terbesar berasal dari konsumsi rumah tangga.
Pada triwulan III 2026, kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 0,94 persen. Perjalanan wisatawan nusantara juga mengalami peningkatan sekitar 0,8 persen.
Kinerja akomodasi turut menunjukkan peningkatan. Tingkat penghunian kamar mengalami kenaikan, terutama pada hotel bintang lima. Kondisi tersebut menjadi catatan penting karena peningkatan aktivitas pariwisata tidak hanya tercermin dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari karakteristik akomodasi yang digunakan wisatawan.
“Walaupun tingkat kunjungannya meningkat 0,94 persen, mungkin pengeluaran wisman selama di Bali lebih tinggi dibandingkan sebelumnya karena mereka memilih akomodasi yang memiliki harga lebih tinggi,” ujar Agus.
Dari sisi produksi, penggunaan listrik pada segmen bisnis dan industri juga meningkat. Penggunaan listrik industri naik sekitar 17 persen, sedangkan segmen bisnis meningkat sekitar 10 persen. Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator yang mencerminkan aktivitas produksi dan usaha yang tetap bergerak.
Pada sektor perdagangan, Bali masih mencatat surplus sebesar US$67,62 juta. Nilai surplus tersebut meningkat 6,16 persen.
Sementara dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit melalui bank umum dan BPR berdasarkan data OJK meningkat sekitar 7,5 persen. Sejumlah indikator yang berkaitan dengan daya beli masyarakat juga menunjukkan kondisi yang meningkat.
Menurutnya, catatan-catatan tersebut melengkapi gambaran pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan III 2026. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi secara tahunan masih sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Diakui, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah perlambatan sektor akomodasi dan makan minum. Sektor yang memiliki kontribusi terbesar dalam struktur ekonomi Bali tersebut tumbuh 6,23 persen pada triwulan III 2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 10,94 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontribusi akomodasi dan makan minum terhadap pertumbuhan ekonomi juga turun dari 2,13 poin pada triwulan III 2025 menjadi 1,27 poin pada triwulan III 2026. (Suardika/balipost)










