
DENPASAR, BALIPOST.com – Air kemasan menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi bulanan Bali pada September 2026. Air kemasan termasuk komoditas baru memberikan andil inflasi.
Komoditas ini tercatat bersama daging ayam ras, cabai rawit, beras dan sejumlah kebutuhan masyarakat lainnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan, kemunculan komoditas yang sama dalam daftar penyumbang inflasi berkaitan dengan besarnya bobot komoditas tersebut dalam konsumsi masyarakat.
“Kenapa komoditasnya kelihatan itu-itu saja? Karena komoditas yang punya bobot besar itu yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Agus Gede, Kamis (1/10).
Ia menjelaskan, beras, daging ayam ras hingga cabai rawit memiliki bobot konsumsi yang besar. Karena itu, sedikit saja terjadi perubahan harga, dampaknya terhadap inflasi dapat lebih terasa.
Menurut Agus, inflasi juga tidak bisa dibaca hanya dari mahal atau murahnya harga suatu komoditas antarwilayah. Yang diukur dalam inflasi adalah perubahan harga dari waktu ke waktu.
Ia mencontohkan, komoditas yang harganya Rp5.000 kemudian naik menjadi Rp5.500 mengalami kenaikan 10 persen. Sementara komoditas yang semula Rp10.000 naik menjadi Rp10.800 mengalami kenaikan 8 persen.
“Kalau leveling, mungkin harga di Denpasar lebih mahal daripada daerah lain. Tapi ketika bicara pergerakannya, yang dilihat adalah persentase kenaikannya,” ujarnya.
Dalam catatan BPS, air kemasan termasuk komoditas yang dominan memberikan andil inflasi secara tahunan pada September 2026. Air kemasan juga masuk dalam daftar komoditas yang memberikan andil inflasi secara bulanan, bersama daging ayam ras, cabai rawit, biaya akademi/perguruan tinggi, jeruk, bahan bakar rumah tangga, beras dan sejumlah komoditas lainnya.
Secara kelompok pengeluaran, makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,93 persen dan menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Bali dengan andil 1,54 persen. Kelompok transportasi mencatat inflasi tertinggi secara kelompok sebesar 7,14 persen dengan andil 0,77 persen.
Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 3,88 persen dengan andil 0,38 persen. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 2,40 persen dengan andil 0,33 persen.
Agus menjelaskan, inflasi tidak semata-mata menunjukkan mahal atau murahnya harga suatu komoditas antarwilayah. Inflasi lebih mencerminkan perubahan harga dari waktu ke waktu. (Suardika/balipost)










