Kekeringan melanda Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Akibat kondisi ini, sejumlah petani merugi. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Kekeringan yang melanda Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, berdampak pada produktivitas tanaman padi. Menyusutnya debit air irigasi menyebabkan sejumlah lahan persawahan kekurangan pasokan air hingga mengalami gagal panen atau puso.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Distankan) Buleleng, sekitar 70 petani terdampak dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp120 juta. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan air untuk pertanian, terutama pada musim tanam ketiga. Di Desa Suwug, luas tanaman padi yang mengalami puso akibat kekeringan tercatat mencapai 14,50 hektare. Kekeringan juga dirasakan petani di sejumlah subak yang kesulitan memperoleh pasokan air untuk mengairi sawah.

Kelian Subak Uma Desa, Desa Suwug, I Kadek Aryasa, mengatakan kekeringan mulai dirasakan petani sejak sekitar dua bulan terakhir. Menurut dia, menyusutnya debit air menjadi salah satu penyebab utama, di samping adanya proyek di wilayah atas yang turut menjadi perhatian petani.

Baca juga:  Harga Gabah Di Atas HPP, Bulog Tak Mampu Serap Optimal Hasil Panen

Aryase menjelaskan, Subak Uma Desa memiliki luas lahan sekitar 28 hektar. Dampak kekeringan tidak merata, tetapi sebagian lahan mengalami penurunan hasil panen yang cukup signifikan. Bahkan, dari satu hektare lahan, petani terkadang hanya mampu memanen sekitar 40 are. Sementara itu, sisa lahan yang tidak menghasilkan terpaksa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

“Sekarang ini yang paling parah. Tahun lalu masih normal. Terakhir kondisi seperti ini pernah terjadi sekitar delapan sampai sembilan tahun lalu,” ujarnya saat dihubungi, Senin (26/10).

Kekeringan juga mengganggu pola tanam petani. Jika sebelumnya petani dapat menanam padi hingga tiga kali dalam setahun, kini pola tersebut semakin sulit dipertahankan karena keterbatasan air. Penanaman padi pada musim tanam ketiga pun cenderung dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan air.

Aryase berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan mendasar petani, terutama perbaikan jaringan irigasi, penyediaan bibit padi, dan bantuan traktor. “Dukungan mesin tanam padi sudah pernah diterima, tetapi kebutuhan air tetap menjadi persoalan utama yang harus segera ditangani, termasuk bantuan sumur bor,”jelasnya.

Baca juga:  BPBD Bangli Petakan Risiko Kekeringan, Ini Hasil Terbarunya

Sementara itu, Kepala Distankan Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan pihaknya merekomendasikan pemanfaatan pompa air untuk mengangkat sumber air yang tersedia di bawah permukaan. Langkah tersebut diharapkan membantu petani memenuhi kebutuhan pengairan, khususnya pada musim tanam ketiga atau indeks pertanaman (IP) 3.

Melandrat menjelaskan, persoalan kekurangan air perlu dilihat dari kondisi pengairan dan pengaturan pola tanam di tingkat subak. Secara umum, sistem subak telah memiliki aturan pembagian air berdasarkan posisi lahan di bagian hulu dan hilir. Karena itu, penyesuaian jenis tanaman menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi keterbatasan pasokan air.

Menurut dia, lahan yang kekurangan air semestinya tidak terus dipaksakan untuk ditanami padi. Pola tanam padi-padi-palawija dapat menjadi alternatif agar kebutuhan air lebih terkendali. Namun, pelaksanaan program IP-3 yang mendorong penanaman padi tiga kali setahun, termasuk dukungan benih dari pemerintah, juga perlu disesuaikan dengan kondisi ketersediaan air di lapangan.

Baca juga:  Pacific Bahari Bali, Dive and Water Sport

“Subak sebenarnya sudah memiliki aturan pemanfaatan air. Kalau mengikuti awig-awig dan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi air, persoalan kekurangan air bisa diantisipasi. Namun, kondisi di lapangan tetap perlu dikaji,” kata Melandrat.

Ia menambahkan, kekeringan tidak hanya terjadi di Desa Suwug. Sejumlah wilayah lain di Buleleng, termasuk Lokapaksa di Kecamatan Seririt, juga mengalami persoalan serupa. Distankan terus melakukan pendataan untuk menentukan kebutuhan penanganan, mulai dari penyediaan pompa air, pengembangan irigasi tanah dangkal dan tersier, hingga perbaikan saluran irigasi yang mengalami kebocoran.

“Pemerintah daerah telah mengidentifikasi 83 titik kebutuhan pompa air tanah dangkal di Buleleng. Dukungan sarana dan prasarana tersebut diharapkan dapat membantu menjaga produktivitas pertanian sekaligus mempertahankan ketahanan pangan daerah di tengah cuaca panas dan keterbatasan pasokan air,” imbuh Melandrat. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN