
BANGLI, BALIPOST.com – Selain bawang merah, wilayah Kintamani memiliki potensi besar untuk pengembangan komoditas bawang putih. Namun demikian, tak banyak petani yang tertarik menanamnya lantaran kalah bersaing dengan bawang putih impor.
Salah seorang petani di Desa Songan, Ketut Teon, mengungkapkan bahwa Kintamani pernah menjadi sentra bawang putih pada era 1980 hingga 1990-an. Saat itu, penanaman bawang merah justru masih terbilang sedikit.
Kondisi tersebut kemudian berbalik. Gempuran bawang putih impor membuat para petani enggan menanamnya karena kalah bersaing dari segi ukuran, masa panen, dan harga jual. “Bawang putih impor ukurannya lebih besar, sedangkan bawang putih lokal kecil,” ungkapnya ditemui, Senin (21/9).
Di sisi lain, menanam varietas impor juga bukan solusi karena tanaman hanya tumbuh daun tanpa menghasilkan umbi. Bantuan bibit yang pernah diberikan pemerintah, kata dia tidak membuahkan hasil maksimal. “Dulu sempat diberi bibit Sembalun untuk ditanam, tetapi hasilnya tetap tumbuh seperti bawang putih lokal,” terangnya.
Guna mengembalikan minat petani sekaligus mengoptimalkan potensi Kintamani, pemerintah diharapkan turun tangan menyediakan bibit berkualitas yang mampu bersaing dengan bawang putih impor.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, dalam wawancara beberapa waktu lalu mengakui petani di Kintamani kurang tertarik menanam bawang putih. Salah satunya umur tanam bawang putih jauh lebih panjang dibanding bawang merah. Bawang putih membutuhkan waktu 105 hingga 115 hari baru bisa dipanen, sedangkan bawang merah sudah bisa dipanen dalam rentang 60 hingga 65 hari.
Selain masa tanam, keberadaan bawang putih impor yang mendominasi pasar membuat hasil panen lokal kalah bersaing, terutama dari segi ukuran dan kualitas. “Selama masih ada bawang putih impor, produk lokal selalu menjadi pilihan kedua. Dari segi kualitas dan besarnya buah, bawang putih impor memang lebih unggul. Itu sebabnya petani kurang tertarik,” lanjutnya.
Saat ini, pengembangan bawang putih di Bangli masih ada di beberapa titik, seperti di Desa Pinggan, Sukawana, serta Banjar Bunut dan Madya Desa Terunyan, Kintamani. Luasannya yang sangat minim membuat komoditas ini bahkan tidak masuk dalam pencatatan data statistik daerah. “Luasannya tidak terlalu luas sehingga tidak tercatat di data statistik kita,” ujarnya.
Padahal dari segi harga, bawang putih memiliki tingkat stabilitas yang relatif lebih baik dibandingkan bawang merah yang cenderung fluktuatif.
Sarma menambahkan, upaya pemerintah pusat untuk mengembangkan bawang putih pernah dilakukan pada tahun 2016. Saat itu, setiap pengembangan 10 hektare bawang merah disisipi 1 hektare bawang putih. Rencananya, program serupa akan kembali digalakkan oleh pemerintah pusat pada tahun 2026 dalam rangka memperkuat ketahanan pangan.
Untuk mendorong minat petani mengembangkan bawang putih ke depan, Sarma menilai kunci utamanya terletak pada kepastian harga dan jaringan pemasaran. “Sepanjang itu menguntungkan, kita tidak terlalu susah membujuk petani. Kuncinya ada pada jaminan pasar. Itu yang saya rasa,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)










