Kegiatan penanaman bawang putih yang digelar Polres Bangli dalam rangka mendukung percepatan swasembada bawang putih nasional (BP/Ist)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali menargetkan pengembangan bawang putih varietas lokal (kesuna) seluas 125 hektare sepanjang 2026. Program tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan produksi bawang putih lokal, tetapi juga memperkuat ketersediaan benih sebagai fondasi keberlanjutan produksi di Bali.

Langkah tersebut dilakukan setelah Dinas Pertanian dan Ketahanan (Distan) Pangan Provinsi Bali melakukan studi lapangan ke Lombok. Daerah tersebut dinilai memiliki pengalaman dalam mengembangkan potensi budidaya bawang putih yang dapat menjadi referensi bagi Bali.

Kepala Distan Pangan Bali, Wayan Sunada, mengatakan pelaksanaan penanaman akan dilakukan secara bertahap. Dari total target 125 hektare, seluas 80 hektare akan mulai ditanam dalam waktu dekat. Sementara sisa 45 hektare ditargetkan direalisasikan pada bulan berikutnya.

Baca juga:  Ini Penyebabnya, Imigrasi Belum Punya Data Jumlah Wisman Eksodus dari Gili

“Rencananya kita akan menerapkan sesuai dengan apa yang kita dapatkan di Lombok. Untuk penanaman 80 hektare akan dimulai dalam waktu dekat, dan sisanya bulan depan,” ujar Sunada, Senin (5/10).

Penanaman kesuna tersebut akan dikembangkan di empat daerah yang menjadi sentra pertanian bawang putih Bali. Lokasinya meliputi Desa Tambakan, Kabupaten Buleleng; Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan; Desa Songan, Kabupaten Bangli; serta Desa Temukus, Kabupaten Karangasem.

Sunada mengatakan pengembangan bawang putih lokal tidak semata-mata bergantung pada karakter fisik varietas Kesuna yang selama ini dikenal memiliki ukuran umbi relatif kecil. Menurutnya, ukuran dan kualitas umbi juga sangat dipengaruhi penerapan teknik budidaya di tingkat petani.

Baca juga:  Desa Babahan Kembangkan Bawang Putih Lokal

Karena itu, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan Kesuna. Dengan teknik budidaya yang tepat, kualitas tanaman diharapkan dapat meningkat sehingga menghasilkan umbi yang lebih optimal, termasuk dari sisi ukuran.

Meski target penanaman mencapai 125 hektare, hasil produksi tahun ini belum diarahkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan bawang putih konsumsi di pasar. Pemprov Bali masih menghadapi persoalan keterbatasan ketersediaan benih bawang putih lokal.

Kondisi tersebut membuat hasil penanaman tahun 2026 lebih diprioritaskan untuk perbanyakan benih. Benih hasil produksi nantinya diharapkan dapat memperkuat ketersediaan bahan tanam sehingga pengembangan Kesuna dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya.

Baca juga:  Disayangkan Acara Amal Gunung Agung Dimeriahkan Joged Porno

“Sekarang kita kesulitan untuk mendapatkan benih. Jadi target tahun ini fokus untuk perbanyakan benih dulu,” kata Sunada.

Ia mengatakan pola pemanfaatan hasil panen akan mulai diarahkan berbeda pada 2027. Sebagian hasil produksi ditargetkan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, sedangkan sebagian lainnya tetap dialokasikan untuk perbanyakan benih.

“Baru pada tahun 2027 mendatang, alokasinya akan dibagi: setengah untuk pasokan konsumsi masyarakat dan setengahnya lagi tetap dipertahankan untuk perbanyakan benih,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

 

BAGIKAN