
BANGLI, BALIPOST.com – Lahan pertanian di Bangli sebenarnya sangat cocok untuk budidaya bawang putih. Namun, para petani kurang tertarik membudidayakannya hingga membuat luas lahan tanam komoditas tersebut terus menyusut.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, mengungkapkan bahwa perbedaan masa tanam antara bawang putih dengan bawang menjadi pertimbangan utama para petani kurang tertarik menanam bawang putih. “Umur tanam bawang putih jauh lebih panjang dibanding bawang merah. Bawang putih membutuhkan waktu 105 hingga 115 hari baru bisa dipanen, sedangkan bawang merah sudah bisa dipanen dalam rentang 60 hingga 65 hari,” ujar Sarma, Rabu (19/8).
Selain masa tanam, keberadaan bawang putih impor yang mendominasi pasar membuat hasil panen lokal kalah bersaing, terutama dari segi ukuran dan kualitas. “Selama masih ada bawang putih impor, produk lokal selalu menjadi pilihan kedua. Dari segi kualitas dan besarnya buah, bawang putih impor memang lebih unggul. Itu sebabnya petani kurang tertarik,” lanjutnya.
Saat ini, pengembangan bawang putih di Bangli masih ada di beberapa titik, seperti di Desa Pinggan, Sukawana, serta Banjar Bunut dan Madya Desa Terunyan, Kintamani. Luasannya yang sangat minim membuat komoditas ini bahkan tidak masuk dalam pencatatan data statistik daerah. “Luasannya tidak terlalu luas sehingga tidak tercatat di data statistik kita,” ujarnya.
Padahal dari segi harga, bawang putih memiliki tingkat stabilitas yang relatif lebih baik dibandingkan bawang merah yang cenderung fluktuatif. Sarma menyebutkan saat ini, harga bawang merah di tingkat petani tergolong rendah, berada di kisaran Rp18.000 per kilogram. Sementara bawang putih stabil di harga Rp33.000 per kilogram.
Sarma menambahkan, upaya pemerintah pusat untuk mengembangkan bawang putih pernah dilakukan pada tahun 2016. Saat itu, setiap pengembangan 10 hektare bawang merah disisipi 1 hektare bawang putih. Rencananya, program serupa akan kembali digalakkan oleh pemerintah pusat pada tahun 2026 dalam rangka memperkuat ketahanan pangan.
Untuk mendorong minat petani mengembangkan bawang putih ke depan, Sarma menilai kunci utamanya terletak pada kepastian harga dan jaringan pemasaran. “Sepanjang itu menguntungkan, kita tidak terlalu susah membujuk petani. Kuncinya ada pada jaminan pasar. Itu yang saya rasa,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)










