Salah satu petani menunjukan anggur impor Krisna Grape yang berlokasi di Banjar Sandikerta, Jalan Asem Kembar. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, mulai mengembangkan potensi pertanian sebagai daya tarik wisata. Salah satunya melalui kebun anggur impor Krisna Grape yang berlokasi di Banjar Sandikerta, Jalan Asem Kembar. Kebun ini menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung, yakni melihat budidaya anggur sekaligus mencicipi dan memetik buah langsung dari pohonnya.

Pengelola Krisna Grape, Made Sujana yang akrab disapa Bli Kadek, Rabu (21/10), mengatakan pengembangan kebun anggur impor berawal dari keinginannya memperkenalkan potensi pertanian Desa Pejarakan yang lebih beragam. Menurutnya, potensi anggur di desa tersebut tidak hanya terbatas pada varietas lokal, tetapi juga dapat dikembangkan melalui budidaya sejumlah varietas impor.

“Desa Pejarakan bukan hanya tentang memperkenalkan anggur lokal. Kami ingin memperkenalkan juga anggur impor, dengan setiap lokasi memiliki varian yang berbeda,” ujarnya.

Saat ini, Krisna Grape membudidayakan sejumlah varietas anggur impor, di antaranya Taldun, Julian, Everest, dan Akademik. Setiap varietas memiliki karakteristik rasa dan tekstur yang berbeda sehingga memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung.

Menariknya, pengunjung diperbolehkan mencicipi buah anggur sebelum memutuskan untuk memetik atau membelinya. Dengan demikian, wisatawan dapat mengenali perbedaan rasa setiap varietas sekaligus menikmati hasil budidaya secara langsung. “Setiap varian rasanya berbeda, teksturnya juga berbeda. Jadi sebelum petik, pengunjung boleh mencicipi terlebih dahulu. Biar mereka sendiri yang merasakan dan memilih,” jelasnya.

Baca juga:  Pansus TRAP Sidak ke Kampial, Aktivitas Tambang 5,8 Hektare Ditutup Sementara

Sejak dibuka untuk umum, kebun tersebut mendapat respons positif. Jumlah pengunjung yang datang disebut telah mencapai ratusan orang. Selain menawarkan pengalaman wisata, Krisna Grape juga diharapkan menjadi sarana edukasi pertanian, terutama bagi anak-anak agar lebih mengenal proses budidaya tanaman buah.

Made Sujana berharap kebun anggur tersebut dapat menjadi pilihan rekreasi keluarga sekaligus memperkenalkan potensi pertanian Desa Pejarakan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Harapannya keluarga ramai-ramai datang ke sini. Anak-anak bisa belajar dan tahu bahwa di Desa Pejarakan, ketika masuk ke pedesaan, ternyata ada buah anggur impor yang dibudidayakan,” katanya.

Dari sisi produksi, panen anggur dilakukan sekitar tiga bulan sekali. Dalam setiap periode panen, omzet yang diperoleh berkisar Rp18 juta atau lebih. Namun, hasil budidaya masih dipengaruhi kondisi cuaca, terutama saat memasuki musim hujan.

Baca juga:  Kunjungan Wisata Meningkat, Tapi PHK Tetap Terjadi di Badung

Menurut Made Sujana, curah hujan yang tinggi menjadi salah satu kendala karena proses pembuahan anggur lebih sulit. Tingkat kemanisan buah juga cenderung menurun dibandingkan saat musim panas. Sebaliknya, kondisi cuaca yang lebih kering dinilai mendukung produksi dan menghasilkan buah dengan rasa lebih manis.

Untuk menikmati wisata petik anggur di Krisna Grape, pengunjung dewasa dikenakan tiket masuk Rp10 ribu per orang. Sementara itu, anak-anak berusia di atas lima tahun dikenakan tiket Rp5 ribu, sedangkan anak-anak di bawah lima tahun tidak dipungut biaya. Tiket tersebut sudah termasuk kesempatan mencicipi anggur.

Adapun anggur yang dipetik dan dibeli pengunjung dijual dengan harga Rp80 ribu per kilogram untuk seluruh varietas yang tersedia. Pengelola mengimbau calon pengunjung menghubungi pihak kebun terlebih dahulu melalui WhatsApp untuk memperoleh informasi lokasi atau titik koordinat. Hal ini karena kebun berada di kawasan pedesaan dan tidak terletak tepat di tepi jalan utama.

Made Sujana mengaku belum dapat memenuhi permintaan pembelian secara daring maupun melalui sistem cash on delivery (COD) dalam jumlah besar. Karena itu, ia berharap para pencinta anggur dapat datang langsung untuk menikmati pengalaman mencicipi dan memetik buah di kebun.

Baca juga:  Di Dubai, Badung Tawarkan Wisata Unta

“Kalau ada permintaan banyak melalui online, kami belum bisa melayani. Jadi saya berharap para pencinta anggur datang langsung ke sini, mencicipi dan merasakan sendiri buahnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Perbekel Desa Pejarakan, I Made Astawa, mengatakan pemerintah desa berkomitmen mendukung pengembangan potensi usaha masyarakat, termasuk budidaya anggur yang mulai diarahkan menjadi daya tarik wisata.

Dukungan tersebut dilakukan melalui pendampingan, fasilitasi promosi, serta mendorong pelaku usaha dan petani anggur membentuk kelompok. Dengan adanya kelompok, pengelolaan usaha dan pemasaran diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Pemerintah desa juga berupaya memperkenalkan potensi wisata petik anggur melalui media informasi desa serta membantu memfasilitasi akses pengunjung menuju lokasi kebun,”jelasnya.

Astawa berharap pengembangan wisata berbasis pertanian dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan kunjungan wisatawan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. “Potensi tersebut diharapkan tidak hanya mengembangkan usaha perseorangan, tetapi juga mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi masyarakat Desa Pejarakan,”tutupnya. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN