Salah satu lahan sawah di Kerambitan, Tabanan mengalami kekeringan karena musim kemarau yang melanda Bali. (BP/suk)

DENPASAR, BALIPOST.com -Mundurnya musim hujan akibat fenomena El Nino terus berdampak pada sektor pertanian di Bali. Total 40,45 hektate tanaman gagal panen. Rinciannya, 36,45 hektare tanaman padi dan 4 hektare tanaman jagung.

Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah karena keterbatasan pasokan air masih mengancam sejumlah lahan pertanian di tengah musim kemarau yang berlangsung lebih panjang.

Kalaksa BPBD Bali, I Gede Teja, mengatakan dampak kekeringan terhadap tanaman padi tercatat di Kabupaten Jembrana dan Buleleng. Di Jembrana, luas lahan padi yang terdampak kekeringan mencapai 206,25 hektare, sedangkan di Buleleng mencapai 224,08 hektare. Namun, tidak seluruh lahan yang terdampak mengalami gagal panen.

Khusus di Jembrana, tanaman padi yang dipastikan mengalami gagal panen mencapai 36,45 hektare. Selain itu, tanaman jagung seluas 4 hektare di Kecamatan Pekutatan juga mengalami gagal panen.

Baca juga:  Akan Mulai Tatanan Era Baru Mulai 9 Juli, "Pamahayu Jagat" Digelar di Besakih

Gede Teja mengatakan kerugian yang dialami petani akibat gagal panen tersebut masih dalam proses pendataan secara terperinci. Pendataan ini diperlukan untuk mengetahui besaran dampak kekeringan sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan lebih lanjut terhadap lahan pertanian yang terdampak.

Menurut Teja, pemerintah bersama instansi terkait sebelumnya telah melakukan koordinasi untuk mengantisipasi dampak musim kemarau. Koordinasi melibatkan dinas pertanian, dinas pekerjaan umum (PU), serta BPBD kabupaten/kota guna menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyediaan pompa air di lebih dari 100 titik di Bali oleh Balai Wilayah Sungai (BWS). Kementerian Pertanian juga memberikan bantuan pompa irigasi. Selain itu, petani dan masyarakat didorong mengatur penggunaan air secara efisien agar kebutuhan air untuk pertanian tetap terpenuhi.

Baca juga:  Kebakaran Rumah di Penarukan, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah

Meski berbagai langkah antisipasi telah dilakukan, kekeringan masih berdampak pada sejumlah subak. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan air untuk pertanian belum sepenuhnya teratasi, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air selama musim kemarau.

Teja menjelaskan, fenomena El Nino turut memengaruhi mundurnya awal musim hujan di Bali sekitar satu bulan dari kondisi normal. Berdasarkan pembaruan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan mulai turun secara bertahap pada awal November 2026.

Baca juga:  Zodiak dengan Emotional Intelligence Tertinggi, Kamu Termasuk?

“Kalau tahun sebelumnya ini sudah masuk musim hujan, sekarang mundur sekitar satu bulan. Awal November baru mulai masuk musim hujan secara bertahap,” ungkap Teja.

Mundurnya musim hujan tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian, tetapi juga berpotensi memperburuk krisis air bersih serta meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pemerintah daerah terus melakukan upaya penanganan untuk mengurangi dampak kekeringan, baik terhadap kebutuhan air bersih masyarakat maupun sektor pertanian. Dukungan pompa air, pengelolaan irigasi, dan penghematan penggunaan air menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian selama curah hujan masih rendah. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN