
DENPASAR, BALIPOST.com – Perekonomian Bali diprakirakan tumbuh 5,4–5,9 persen pada 2026 di tengah ketidakpastian global. Bank Indonesia menilai sektor pertanian, konstruksi, perdagangan, serta akomodasi dan makan minum masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Gubernur Bali Wayan Koster pada saat Temu Wirasa Stakeholders 2026, Jumat (23/10) menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan III 2026 berada di kisaran 5,9%. Ia berharap pertumbuhan pada triwulan IV tetap terjaga, di atas nasional dan tidak lebih rendah dibandingkan capaian 2025, dengan sasaran mendekati 6%.
Untuk mencapai target tersebut, pembenahan transportasi, pembangunan infrastruktur, serta penguatan sektor ekonomi lokal menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan. Menurutnya, fondasi ekonomi yang lebih mandiri diperlukan agar Bali dapat menjaga pertumbuhan sekaligus menghadapi risiko perubahan kondisi global.Pe
Di tempat sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, pertumbuhan ekonomi Bali diprakirakan tetap kuat meskipun perekonomian global menghadapi berbagai tantangan. Dari sisi harga, inflasi Bali juga diprakirakan tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Dalam prospek perekonomian Bali yang disampaikan BI, sektor pertanian diprakirakan menguat sejalan dengan program swasembada pangan dan semakin luasnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, sektor konstruksi diperkirakan tumbuh didukung proyek pembangunan yang berkaitan dengan pariwisata, proyek strategis yang berlangsung lebih dari satu tahun, serta peningkatan pembangunan infrastruktur pemerintah.
Salah satu proyek yang turut menjadi perhatian adalah pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional.
Di sisi lain, sektor akomodasi dan makan minum serta transportasi dan pergudangan diprakirakan tetap menopang perekonomian Bali. Namun, kinerja sektor yang berkaitan dengan pariwisata berpotensi sedikit termoderasi akibat gejolak geopolitik global.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Bali tercatat tumbuh 5,78 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan I yang sebesar 5,58 persen. Capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II yang mencapai 5,29 persen.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Bali masih ditopang konsumsi rumah tangga yang solid, peningkatan investasi, serta konsumsi pemerintah. Sementara dari sisi lapangan usaha, konstruksi dan pertanian turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan.
Meski prospek ekonomi diprakirakan tetap positif, ketidakpastian global masih menjadi faktor yang perlu dicermati. Perkembangan geopolitik dapat mempengaruhi aktivitas perdagangan, biaya distribusi, serta kinerja sektor pariwisata yang memiliki peran penting dalam perekonomian Bali. (Suardika/balipost)










