Kondisi kekeringan di wilayah Tabanan dan petugas sedang mengoperasikan pompa air. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Musim kemarau mulai berdampak terhadap produktivitas pertanian di Kabupaten Tabanan. Sebanyak 115 hektare tanaman padi di lima kecamatan dilaporkan mengalami kerusakan akibat kekurangan air. Dinas Pertanian setempat kini mengintensifkan pendataan dan memfasilitasi pompa air untuk menyelamatkan tanaman agar tidak berujung gagal panen.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Utama, Rabu (21/10), mengatakan kerusakan tanaman padi tersebut tersebar di Kecamatan Marga, Pupuan, Kerambitan, Tabanan, dan Selemadeg Barat. Tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari ringan, sedang, hingga berat, dengan usia tanaman berkisar 50–90 hari. “Sebagian tanaman masih berpeluang diselamatkan. Namun, jika kekurangan air berlangsung lebih lama, risiko gagal panen dapat meningkat. Karena itu, penanganan perlu dilakukan sebelum kondisi tanaman semakin memburuk,” ujarnya.

Baca juga:  Cek Jadwal PKB 1 Juli 2026: Dari Rekonstruksi Gamelan Tua hingga Gong Kebyar Dewasa

Berdasarkan data sementara, Kecamatan Kerambitan mencatat kerusakan tanaman padi seluas 50 hektare, terdiri atas 30 hektare rusak ringan dan 20 hektare rusak sedang. Di Kecamatan Marga, kerusakan mencapai 26 hektare, meliputi 16 hektare rusak sedang dan 10 hektare rusak berat.

Sementara itu, di Pupuan terdapat 30 hektare tanaman padi rusak, terdiri atas 20 hektare kategori sedang dan 10 hektare kategori berat. Di Kecamatan Tabanan, kerusakan meliputi dua hektare kategori sedang dan tiga hektare kategori berat. Sedangkan di Selemadeg Barat, empat hektare tanaman padi mengalami kerusakan ringan.

Utama menjelaskan, kekeringan tidak hanya dipicu musim kemarau, tetapi juga terbatasnya pasokan air irigasi. Di Subak Meliling, Kecamatan Kerambitan, misalnya, distribusi air sempat terganggu karena bendungan menjalani perbaikan. Meski bendungan sudah mulai berfungsi, namun debit air ke jaringan irigasi belum sepenuhnya normal. Kondisi tersebut membuat petani masih perlu mengatur pemanfaatan air agar kebutuhan tanaman tetap terpenuhi.

Baca juga:  Ini, Kebijakan OJK Khusus untuk Pelaku Usaha Terdampak Gunung Agung

“Perbaikan bendungan sudah selesai dan aliran air kembali berjalan. Meski debitnya belum seperti kondisi normal, kami berharap kebutuhan air tanaman dapat dipenuhi melalui pengaturan distribusi dan penanganan di lapangan,” katanya.

Untuk mengantisipasi kerugian petani, Dinas Pertanian Tabanan memfasilitasi peminjaman dua unit mesin pompa air dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida. Salah satu unit telah dimanfaatkan di Subak Gubug, Kecamatan Tabanan. Pompa tersebut diprioritaskan bagi subak yang tanaman padinya terdampak kekeringan. Petani yang membutuhkan dapat berkoordinasi dengan Dinas Pertanian atau penyuluh pertanian setempat untuk mengajukan penggunaan peralatan tersebut.

Baca juga:  Kapolres Turun Langsung, Seng Protes di Sawah Jatiluwih Dituntaskan

Fasilitas peminjaman pompa tidak dipungut biaya. Petani hanya perlu menyediakan bahan bakar untuk mendukung operasional mesin. Dinas Pertanian juga berharap mesin pompa bantuan Kementerian Pertanian yang diterima pada tahun sebelumnya dapat kembali dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Selain penanganan irigasi, perlindungan terhadap risiko kerugian dilakukan melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Menurut Utama, petani dapat mengusulkan kepesertaan untuk tanaman berusia nol hingga 30 hari dengan memenuhi persyaratan administrasi yang ditetapkan Jasindo melalui pendampingan penyuluh pertanian. Di sisi lain, penyuluh masih melakukan pendataan untuk memantau perkembangan dampak kekeringan.

“Angka di atas masih data sementara, ada kemungkinan luas tanaman terdampak berpotensi bertambah,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN