Lahan sawah puso akibat kemarau ekstrem di Jembrana. (BP/Olo)

 

NEGARA, BALIPOST.com – Dampak kemarau ekstrem terhadap lahan pertanian di Jembrana terus meluas. Musim kemarau berkategori sangat kering ini sudah berlangsung hampir enam bulan. Hingga awal Oktober 2026, tercatat 143,15 hektare sawah terdampak kekeringan, 89,46 hektare di antaranya puso atau gagal panen.

Data Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana menyebutkan, penyuluh pertanian di lapangan mencatat kekeringan seluas 143,15 hektare yang tersebar di lima kecamatan. Dari jumlah itu, 47,39 hektare berhasil dipulihkan melalui pengaturan irigasi sistem bergilir
serta pemanfaatan sumur bor.

Wilayah puso terluas tercatat di Subak Babakan Yeh Kuning, Kecamatan Jembrana, mencapai 11,65 hektare. “Saat ini lahan yang terdampak kekeringan sudah mencapai 143 hektare. Itu tersebar di semua wilayah. Yang paling luas di Kecamatan Negara,” kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, I Putu Eka Arta saat dikonfirmasi, Kamis 8 Oktober 2026.

Baca juga:  Lahan Sawah di Karangasem Susut Ratusan Hektare Setahun, Kecamatan Ini Terbanyak

Dia menjelaskan, lahan pertanian terdampak kemarau ekstrem ini sudah terjadi sejak Agustus 2026. Berbagai upaya seperti pergiliran air subak serta pemanfaatan sumur bor sudah dilakukan agar dampak tidak meluas.

Namun, laporan petani gagal panen yang awalnya hanya 22 hektare kini meluas menjadi lebih dari 89 hektare. Eka Arta mengakui musim kemarau saat ini sangat kering dan berpotensi lebih panjang. Jika sebelumnya lahan masih bisa diselamatkan dengan pompa air bantuan, kini potensinya lebih kecil.

Baca juga:  Dukung Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Kolaborasi BI dan Pemprov Bali Diapresiasi

“Kemudian, meskipun sumur bor tersedia, tapi belum mampu mengairi seluruh luas yang terdampak kekeringan sehingga tak bisa
diselamatkan,” ungkapnya.

Meski banyak puso, petugas lapangan bersama petani berhasil memulihkan 47,39 hektare sawah. Terkait petani yang masih melakukan musim tanam di tengah kemarau ekstrem, Eka Arta menyebut tanaman padi baru sudah diatur oleh subak.

Petani dan tim lapangan melihat potensi debit air di masing-masing wilayah subak. “Sudah diatur bersama petani untuk mencegah ada tanaman yang tidak mendapatkan air. Baik dari aliran irigasi maupun dari keberadaan sumur bor yang ada. Agar jangan sampai nanti kembali muncul puso,” katanya.

Baca juga:  Beringin di Jayasabha Tumbang

Eka Arta mengimbau petani lebih selektif dan memahami situasi terkini sebelum bertani. Cuaca ekstrem tahun ini sangat berpotensi menyebabkan kekeringan hingga puso jika sumber mata air tidak maksimal. “Kami harap kondisi ini tidak meluas kembali. Kasian petani di lapangan,” harapnya. (Surya Dharma/balipost)

 

BAGIKAN