
JAKARTA, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi tahunan Indonesia sebesar 3,28 persen (year-on-year/yoy) pada September 2026 utamanya didorong oleh 3 kelompok.
“Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahun ini utamanya didorong oleh tiga kelompok,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam Rilis BPS di Jakarta, Kamis (1/10).
Dikutip dari Kantor Berita Antara, ketiga kelompok ini adalah makanan, minuman, dan tembakau; transportasi; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi sebesar 4,37 persen dan memberikan andil 1,28 persen terhadap inflasi tahunan.
Sejumlah komoditas menjadi pendorong utama pada kelompok tersebut, antara lain ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), serta daging sapi.
Sementara itu, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 4,84 persen dengan andil 0,58 persen. Kenaikan pada kelompok ini terutama didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, biaya pemeliharaan atau servis, serta mobil.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi di antara ketiga kelompok tersebut, yakni sebesar 7,77 persen, dengan andil 0,53 persen. Inflasi pada kelompok ini terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan.
Jika dilihat berdasarkan komponennya, seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan pada September 2026.
Komponen inti mengalami inflasi (core inflation) sebesar 2,84 persen dengan andil 1,82 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop atau notebook, serta pelumas atau oli mesin.
Komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) mencatat inflasi sebesar 3,25 persen dengan andil 0,63 persen. Kenaikan terutama berasal dari bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), serta bahan bakar rumah tangga.
Adapun komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi tahunan sebesar 5,03 persen dengan andil 0,83 persen. Tekanan inflasi pada komponen ini terutama berasal dari daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi.
Dari sisi wilayah, seluruh provinsi mengalami inflasi tahunan pada September 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 7,59 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Sumatera Selatan sebesar 2,55 persen. (kmb/balipost)










