Prof. Wayan Ramantha. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Inflasi Bali pada Agustus 2022 mencapai 6,38% (yoy). Meski inflasi Bali di atas range target Bank Indonesia yaitu 3,5% plus minus 1%, namun inflasi Bali tersebut tergolong inflasi ringan. Hanya saja pertumbuhan ekonomi Bali belum menembus angka 6 persen.

Guru Besar Universitas Udayana Prof. Wayan Ramantha, Senin (5/9) mengatakan, inflasi ringan adalah inflasi di bawah 10%, sedang 10-30%, berat di atas 30%. Sehingga Bali masih tergolong inflasi ringan. Penyebabnya, kenaikan harga BBM dan beberapa bahan makanan.

Sementara BBM diyakini tidak akan mengalami kenaikan lagi karena Presiden telah menjamin harga BBM hingga akhir tahun ini tidak akan mengalami kenaikan lagi. Dengan demikian inflasi yang merupakan definisi kenaikan harga secara terus menerus, tidak akan lebih tinggi di bulan-bulan yang akan datang.

Baca juga:  Masyarakat Jangan "Panic Buying" Hadapi COVID-19, Dampaknya Seperti Ini

Ramantha mengatakan inflasi komponen inti dan administered price pada Juli 2022 cukup rendah. Inflasi inti hanya 2,86%, sedangkan inflasi yang tinggi
adalah dari komponen harga bergejolak (bahkan pangan) yang mencapai 11,47%. Ramantha mengungkapkan Bali perlu mewaspadai kenaikan harga pangan meskipun harga BBM tidak akan naik lagi. Mengingat dalam biaya produksi pangan mengandung komponen transportasi yang berkaitan dengan BBM, kenaikan harga pangan juga akan terpengaruh dengan naik- turunnya harga BBM.

Inflasi makanan atau bahan pangan secara umum selain disebabkan ongkos produksi juga bisa disebabkan permintaan meningkat. Menurutnya permintaan juga tidak akan terjadi peningkatan karena daya beli masyarakat seiring kondisi ekonomi belum
membaik dan masih dalam pengaruh masa COVID-19 sehingga tidak akan terjadi peningkatan. “Harga yang naik jika tidak ada daya beli, kan orang akan menurunkan harga,” tandasnya.

Baca juga:  Polisi Promosikan Bali Aman Dikunjungi

Selain itu, jika harga makanan mengalami kenaikan terlalu tinggi, masyarakat bisa mencari substitusi penggantinya seperti kenaikan harga telur, masyarakat bisa beralih ke sumber protein lain. Kalaupun ada alasan penimbunan bahan pangan untuk menaikkan harga menurutnya pun akan kecil terjadi karena bahan pangan mudah rusak sehingga
orang akan berpikir untuk melakukan penimbunan demi harga tinggi.

Dengan melihat kondisi itu menurutnya inflasi ringan yang terjadi saat ini, dinilai tidak akan mencapai inflasi sedang atau di atas 10%. Hanya saja pertumbuhan ekonomi Bali yang belum mencapai 6%, menjadi
kekhawatiran Bali mengalami stagflasi.

Baca juga:  Cegah Macet Saat KTT G20, Sekolah di Bali Siap Kembali Belajar Daring

Menurut Ramantha, stagflasi banyak karakteristiknya, salah satunya pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari inflasi, seperti saat ini pertumbuhan ekonomi tidak mencapai 6% tapi inflasi 6%. “Stagflasi
syaratnya cuma satu, salah satu inflasi yang melebihi pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Syarat kedua terjadi stagflasi adalah inflasi secara tetap, tidak mengalami penurunan atau deflasi. Ketiga, menyebabkan angka pengangguran karena daya beli masyarakat tidak memungkingkan akhirnya produksi terhenti lalu terjadi pengangguran. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN