
DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Bali pada Desember 2025 menjadi yang tertinggi selama tiga tahun terakhir.
“Inflasi tahunan antara Desember 2025 terhadap Desember 2024 tercatat 2,91 persen, ini lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya,” kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Bali, Senin (5/1).
Dikutip dari Kantor Berita Antara, BPS Bali mencatat pada Desember 2023 inflasi tahunan sebesar 2,77 persen dan Desember 2024 sebesar 2,34 persen.
Inflasi Desember 2025 dipengaruhi sejumlah faktor terutama musim ketersediaan dan permintaan, dengan kelompok pengeluaran paling berpengaruh yaitu makanan, minuman, dan tembakau.
“Komoditasnya (penyumbang inflasi) cabai rawit, bawang merah, beras, emas/perhiasan, dan daging ayam ras, yang di antaranya pengaruhnya dengan musim, kemarin kan musimnya tidak bagus, produksinya berkurang, kemudian ditambah sempat ada gangguan distribusi,” ujar Agus Gede.
BPS Bali juga mendata inflasi tahunan Desember 2025 dipengaruhi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya; pendidikan; transportasi; dan perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
Agus Gede menjelaskan kondisi indeks juga dipengaruhi diskon tarif listrik hingga 50 persen pada Februari 2025 hingga terjadi deflasi.
Namun, di bulan berikutnya yaitu Maret, diskon tersebut berakhir, sehingga kenaikan relatif tinggi ditambah saat itu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri.
Kemudian, Mei musim hujan berakhir, sehingga pasokan dan produksi tinggi dan terjadi deflasi, namun pada Juni terjadi peningkatan permintaan musim libur sekolah disertai kemarau basah, sehingga kembali lonjakan harga dan inflasi.
“Terakhir, Desember kemarin inflasi cukup tinggi dipengaruhi Hari Raya Natal dan libur tahun baru, juga kenaikan harga emas, jadi semua memberi pengaruh dominan terhadap harga-harga di 2025 ini,” kata Kepala BPS Bali.
Jika dilihat secara bulan ke bulan, pada Desember 2025 dibanding November 2025, faktor musim libur juga sangat berpengaruh, terbukti dari terjadi inflasi sebesar 0,70 persen dengan dominasi kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau.
Dari 0,70 persen tadi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil hingga 0,67 persen.
Jika dilihat berdasarkan komoditasnya, komoditas penyumbang inflasi bulan ke bulan Desember 2025 adalah cabai rawit yang mengalami inflasi tinggi mencapai 96,39 persen, disusul inflasi bawang merah 33,16 persen, daging ayam ras 3,34 persen, dan tomat inflasi 43,01 persen.
“Walaupun tidak tinggi-tinggi sekali, tapi 0,70 persen bulanan termasuk tinggi, itu salah satunya dipengaruhi musim liburan Natal dan tahun baru sehingga ada peningkatan permintaan dan makanan minuman itu menjadi pendorong utama,” ujar Agus Gede. (kmb/balipost)










