Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana. (BP/dik)

DENPASAR, BALIPOST.com – Inflasi Provinsi Bali pada Agustus 2026 mencapai 3,45 persen secara tahunan. Meski mengalami peningkatan dibandingkan Agustus tahun sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menilai tekanan inflasi sejauh ini belum terlalu memengaruhi daya beli masyarakat.

Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan mengatakan inflasi memang berpengaruh terhadap daya beli, tetapi dampaknya terhadap masyarakat Bali saat ini dinilai belum terlalu besar.

“Daya beli tidak terlalu terpengaruh,” kata Agus Hendrayana di Renon, Selasa (1/9).

Baca juga:  Pertumbuhan Ekonomi Bali 2017, Terendah dalam 6 tahun Terakhir

Menurutnya, kondisi tersebut tetap perlu dicermati, terutama dengan menjaga ketersediaan barang dan kelancaran distribusi. Persediaan komoditas menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah tekanan harga semakin tinggi.

“Persediaan dan distribusi perlu diperhatikan,” ujarnya.

BPS mencatat inflasi Bali pada Agustus 2026 sebesar 3,45 persen secara year on year (y-on-y), meningkat dibandingkan Agustus 2025 sebesar 2,65 persen dan Agustus 2024 sebesar 2,32 persen.

Secara bulanan, Bali mengalami inflasi sebesar 0,61 persen. Sementara inflasi tahun kalender (y-to-d) hingga Agustus 2026 mencapai 2,16 persen.

Baca juga:  Pertumbuhan Ekonomi Bali Tidak Inklusif

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Denpasar sebesar 3,64 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Badung sebesar 2,86 persen.

Tekanan inflasi tahunan terutama berasal dari kelompok transportasi yang mengalami kenaikan harga 6,98 persen. Kemudian kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 3,98 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,81 persen, serta makanan, minuman dan tembakau 3,70 persen.

Dari sisi kontribusi, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 1,16 persen. Disusul transportasi 0,76 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,38 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,37 persen, serta perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,31 persen.

Baca juga:  Pemalakan Sopir di Bypass IB Mantra Viral, Pelaku Ternyata Beraksi di Gianyar-Denpasar

Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan, antara lain bensin, daging ayam ras, emas perhiasan, minyak goreng, cabai rawit, biaya pemeliharaan/service, canang sari, kue basah, sewa rumah, nasi dengan lauk, angkutan udara dan beras. (Suardika/balipost)

BAGIKAN