Salah seorang warga membeli kebutuhan hariannya di Unit Pasar Kuta II, Badung. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kinerja penjualan eceran di Bali masih menunjukkan tren positif memasuki pertengahan 2026. Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada Juni 2026 berada di level 126,4 atau masih dalam kategori optimistis.

Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwana di Denpasar menyebutkan, secara bulanan, IPR Juni meningkat 0,5% dibandingkan Mei 2026. Peningkatan terutama berasal dari penjualan kategori barang budaya dan rekreasi yang tumbuh 2,2%, makanan, minuman dan tembakau 2,0%, serta barang lainnya 0,5%.

Peningkatan penjualan tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat selama periode libur sekolah dan menguatnya aktivitas pariwisata pada musim wisata pertengahan tahun.

Kondisi tersebut juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi Bali yang tetap solid. Pada triwulan II 2026, ekonomi Bali tumbuh 5,78% secara tahunan, dengan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas pariwisata menjadi sejumlah faktor yang menopang perekonomian daerah.

Baca juga:  Dibeberkan, Peran Rekanan Pengadaan Masker Karangasem di Tipikor Denpasar

“Memasuki Juli, kinerja penjualan eceran diperkirakan kembali menguat. IPR Juli diprakirakan mencapai 128,7 atau meningkat 1,8% secara bulanan,” katanya.

Penguatan tersebut terutama diperkirakan berasal dari kategori sandang, makanan, minuman dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi. Momentum tahun ajaran baru dan tingginya aktivitas pariwisata menjadi pendorong utama permintaan masyarakat.

Di sisi lain, tekanan harga diperkirakan masih perlu menjadi perhatian. “Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk September 2026 tercatat 192, sedangkan untuk Desember 2026 mencapai 200. Angka tersebut menunjukkan adanya ekspektasi kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang,” ucapnya.

Baca juga:  Pemkot Denpasar Salurkan Bantuan Pascabencana Rp1,1 Miliar untuk 70 Penerima

Meski demikian, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat 2,42% secara tahunan dan masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5%±1%. Kondisi inflasi yang terkendali turut menjaga daya beli masyarakat dan memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh.

Optimisme pelaku usaha juga masih kuat. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Desember 2026 meningkat menjadi 198, dari 190 pada survei sebelumnya. Sementara IEP September 2026 berada di level 184, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi Agustus yang mencapai 190.

Meski terjadi moderasi dalam jangka pendek, pelaku usaha masih melihat prospek penjualan ritel Bali secara positif. Aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga dinilai tetap menjadi penopang utama.

Baca juga:  Bendesa Adat Tanjung Benoa Diperiksa Dalam Kasus Dugaan Pungli

Optimisme tersebut turut tercermin dari pertumbuhan kredit pada lapangan usaha perdagangan yang hingga Juni 2026 tumbuh 1,47% secara tahunan.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus stabilitas harga, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%.

Di Bali, pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui strategi 4K yang mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi Bali tetap berkelanjutan. (Suardika/balipost)

BAGIKAN