Pengunjung melihat-lihat produk IKM Bali yang merupakan binaan Dekranasda Bali. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Produk kerajinan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Bali yang merupakan binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali cukup diminati wisatawan.

Kehadiran beragam produk kriya, busana lokal, sabun organik, hingga kerajinan perak itu menarik perhatian wisatawan karena menampilkan ciri khas dan kualitas yang tidak kalah dengan produk impor.

Wisatawan asal Uni Emirat Arab, Fabio Scala, yang telah rutin berkunjung ke Bali selama sepuluh tahun terakhir, mengaku kagum dengan produk IKM Bali. Ia yang melihat beragam produk IKM binaan Dekranasda di Sira Village, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-kura Bali ini menilai karya lokal memiliki nilai keautentikan yang tidak bisa digantikan oleh brand global.

Baca juga:  Rekayasa Lalin Antisipasi Volume Kendaraan ke Sira Village, Dishub Bali Sebut Kewenangan Pusat

“Di dunia yang makin modern dengan merek-merek yang sama di mana-mana, produk lokal di sini justru menawarkan sesuatu yang unik, buatan tangan, dan dikerjakan dengan detail kerajinan (craftsmanship) yang luar biasa. Sangat impresif melihat bagaimana perhiasan, kain, hingga sabun alami lokal dikurasi dan ditampilkan dengan sangat baik,” ujar Fabio.

Diakui Presiden Direktur PT Grand Outlet Bali, Tantowi Yahya, kehadiran brand lokal yang terkurasi justru melengkapi daya tarik village outlet bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbelanja otentik. “Kami memberikan ruang bagi produk IKM
Bali agar karya lokal kita yang karena keunikannya, karakternya yang khas, juga tentu kualitasnya, semakin dikenal dunia,” ujar Tantowi.

Baca juga:  Pj. Ketua Dekranasda Bali Semangati Anak TK Lomba Mewarnai di NPF

Deretan brand lokal terkurasi hadir di pusat perbelanjaan itu, seperti Sunaka Jewelry, Darmawan Silver, Kahyangan Jewelry, Ipong Design, Ipong Art, Basudewa, Kembang Sari Batik Painting, hingga Phalam.

I Komang Kartika dari Sunaka Jewelry menyampaikan produk lokal tidak kalah dengan brand luar. “Buat IKM yang selama ini susah masuk mal-mal besar, ini kesempatan langsung buka jalan, sekaligus jadi cara kita membuktikan produk lokal nggak kalah sama brand-brand sekelasnya,” ujar Kartika.

Antusiasme pengunjung terhadap produk IKM diakui oleh Kartika. Ia mengungkapkan sejak awal, area ini cukup ramai didatangi para wisatawan, khususnya oleh wisatawan mancanegara yang mencari suvenir khas Bali.

Baca juga:  Memasuki Musim Hujan, Sejumlah Wilayah Bali Masih Kekeringan Ekstrem

“Paling ramai di weekend sih. Lokalan juga ada paling perbandingannya itu 60 persen (wisatawan mancanegara), 40 persen (wisatawan domestik) gitu. Jadi memang kebanyakan orang-orang luar tuh nyari gift untuk yang memang gak ada di negaranya,” ujarnya.

Sementara itu, Zefri Alfaruqy, Kepala Departemen Komunikasi PT Bali Turtle Island
Development (BTID) menyampaikan integrasi IKM di area ritel modern merupakan
bagian dari komitmen pemberdayaan masyarakat dan mendorong pertumbuhan
ekonomi lokal. “Kehadiran IKM binaan Dekranasda Bali menjadi bukti komitmen kami dalam membangun ekosistem bisnis yang inklusif dan berkelanjutan. Semoga terus bisa memberi dampak baik bagi masyarakat sekitar,” harapnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN