Pengendara melintas di perempatan Jalan Bypass Ngurah Rai dengan Pemelisan, Suwung Batan Kendal, Denpasar, Senin (3/8). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Simpul kemacetan di Denpasar bertambah. Wilayah Serangan, akhir-akhir ini banyak dikeluhkan karena macet yang diduga disebabkan keberadaan mal atau pusat perbelanjaan baru di KEK Kura-Kura Bali.

Sorotan datang dari Fraksi Gerindra dan Fraksi PSI Nasdem DPRD saat rapat paripurna, Rabu (12/8). Sekretaris Fraksi PSI-Nasdem, A.A. Putu Gede Anugraha Merta mengatakan kemacetan ini perlu mendapat atensi.

“Dengan sudah dibukanya pusat perbelanjaan baru di KEK Kura-Kura Bali yang menyebabkan kemacetan bertambah harus segera diantisipasi oleh pemerintah melalui perangkat daerah terkait,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota Fraksi Gerindra, I Gede Tommy Sumertha memaparkan, kemacetan parah hampir setiap hari terjadi. Hal tersebut telah menjadi menu masyarakat yang melintas disepanjang jalan nasional, jalan provinsi, jalan kota bahkan di jalan permukiman di Denpasar.

Baca juga:  Sudah Hancur dan Membusuk, Dua Jenazah Mr. X Dikubur

Menurutnya kondisi tersebut perlu upaya yang serius dan berkelanjutan membenahi tata kelola traffic lalulintas di Kota Denpasar.

Terkait kemacetan di kawasan menuju ke KEK Kura-Kura Bali, pihaknya mendorong agar ada pembuatan jalan in out dari Serangan (kawasan KEK) ke tol Bali Mandara bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Pusat. Selain itu ia juga mendorong upaya-upaya mengurai kemacetan tersebut antara lain dengan membuat underpass di simpang tol Bali Mandara-Bypass Ngurah Rai.

Termasuk juga mendorong dibangun di titik-titik kemacetan lainnya, seperti di simpang Gatot Subroto Barat-Cokroaminoto dan mendorong agar mempercepat realisasi jalan in out ke Pelabuhan Sanur.

“Perlu ketegasan Pemerintah Kota bersama Perumda Bhukti Praja Sewakadarma menata perparkiran di badan jalan, penegakan aturan tidak boleh parkir di trotoar, mengupayakan penambahan kantong- kantong parkir di Pasar Badung, GOR Ngurah Rai, Plaza Thamrin, Plaza Suci, Pasar Sanglah, Pasar Kreneng dan pembangunan bangunan/gedung khusus parkir yang bisa meningkatkan retribusi pendapatan,” paparnya.

Baca juga:  Tanggapi Isu Kelangkaan Elpiji di Jembrana, Pertamina Gelar Pasar Murah

Ia juga menyebut, kemacetan juga sering ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan event yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat, swasta maupun pemerintah sehingga perlu dilakukan pengaturan terhadap efektivitas dan banyaknya event, festival yang berkontribusi menambah kemacetan di ruas jalan di kota Denpasar.

Terkait hal itu, Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan, membludak atau melonjaknya arus lalu lintas yang ada di sepanjang Bypass Ngurah Rai dari perempatan Pesanggaran – Benoa Tol sampai ke timur, pada saat peresmian Sira Village sebenarnya disebabkan banyak hal. “Yang pertama, sebenarnya ada dampak dari ditutupnya sebagian jalan oleh masyarakat yang sedang melaksanakan upacara yang ada di Banjar Pesanggaran itu,” paparnya.

Baca juga:  Residivis Pembunuhan Keroyok Pelajar Akhirnya Ditahan

Yang kedua, meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang berkunjung ke mal yang baru. “Karena tipikal masyarakat kita di Bali kan memang sudah sama-sama kita ketahui, di mana ada yang baru pasti tingkat kunjungannya tinggi. Nah, terbukti, mulai sekarang ini coba teman-teman ikuti, kepadatan lalu lintas yang terjadi di By-pass itu sudah mulai agak berkurang,” paparnya.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Denpasar akan selalu berkoordinasi dengan pihak provinsi, karena jalur By-pass merupakan kewenangan dari Dinas Perhubungan Provinsi untuk mengatur ATCS, sehingga sinkron antara ATCS provinsi dengan ATCS kita di Kota Denpasar. Terkait dengan usulan jalan dan underpas, pihaknya akan segera koordinasi, baik dengan Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN