Sejumlah kendaraan melaju pelan di Jalan Raya Canggu, Kerobokan, Badung. Arus lalu lintas kendaraan di jalur ini sering padat karena volume kendaraan yang melintas tinggi dengan infrastruktur jalan yang sempit. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung tengah menyiapkan langkah terobosan untuk mengurai kemacetan lalu lintas sekaligus mencegah alih fungsi lahan sawah di wilayahnya. Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui rencana pembangunan terowongan (tunnel) bawah tanah sepanjang 2,4 kilometer di bawah Jalan Kerobokan, yang nantinya berpotensi dikombinasikan dengan sistem Electronic Road Pricing (ERP).

Rencana ini diambil mengingat pesatnya pembangunan infrastruktur dan pemukiman yang kian memadati area di atas tanah, khususnya koridor Gatot Subroto (Gatsu) Barat menuju Canggu hingga Munggu. Jika hanya mengandalkan pelebaran jalan atau pembuatan jalur baru di permukaan, pemerintah khawatir akan memperluas konversi lahan pertanian di sekitarnya.

Baca juga:  Didemo, Ini Reaksi AWK

“Dari rancangan percepatan yang kita buat, karena menyangkut begitu padatnya pembangunan yang ada di sana, kalau terpaku pada kondisi eksisting sekarang, tentu kami tidak dapat membuat jalan baru. Karena itu, kami menerapkan teknologi dengan membuatkan tunnel di bawah tanah sepanjang 2,4 kilometer,” ujar Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa saat ditemui usai Rapat Paripurna DPRD Badung.

Tunnel tersebut dirancang membentang dari arah Gatsu Barat bawah tanah, lalu keluar menuju arah Canggu di sisi kiri dan Munggu atau Seminyak di sisi kanan. Guna memastikan efektivitas prasarana tersebut dan mencegah dampak buruk pembangunan jalan konvensional, Pemkab Badung membuka peluang penerapan sistem jalan berbayar elektronik atau Electronic Road Pricing (ERP).

Baca juga:  Bersihkan Lumpur Pascabanjir, Damkar Badung Kerahkan 12 Armada

Fokus utama skema ERP ini diproyeksikan untuk menekan alih fungsi lahan sawah yang sering kali mengikuti pembangunan akses jalan baru. Langkah ini dipertimbangkan untuk mengendalikan volume kendaraan sekaligus memberikan kepastian bahwa pembangunan jalan tidak mengorbankan kawasan hijau dan lahan produktif warga.

“Kemungkinan besar kami akan lakukan ERP (Electronic Road Pricing), karena kami tidak mau ketika membuat jalan baru nanti terjadi alih fungsi lahan yang melewati sawah-sawah. Kalau kita biarkan, kita tidak yakin bisa mengendalikan alih fungsi tersebut. Ini menjadi salah satu solusi agar layanan infrastruktur jalan didapat, tetapi lahan produktif tetap terjaga,” tegasnya.

Baca juga:  Gempa Guncang Bali, Dirasakan Denpasar hingga Karangasem

Pembangunan terowongan bawah tanah ini, kata Adi Arnawa tergolong sebagai teknologi baru yang pertama kali dirancang untuk infrastruktur jalan raya daerah setempat. Pemkab Badung sendiri memfokuskan kajian teknis bersama konsultan ahli asal Shanghai, Tiongkok, yang ditargetkan rampung dalam waktu dua hingga tiga minggu ke depan. “Jika persoalan kemacetan tidak disentuh, kita akan ditinggal wisatawan,” ucapnya.

Mantan Sekda Badung ini berharap kajian komprehensif mampu memberikan rincian teknis, skema pendanaan, serta tata kelola lalu lintas yang matang sebelum proyek fisik direalisasikan. (Parwata/balipost)

BAGIKAN