
MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Badung terus berkomitmen melestarikan serta mempromosikan kekayaan seni dan budaya lokal. Setelah menggelontorkan anggaran sebesar Rp 15,7 miliar untuk merenovasi Museum Yadnya yang berlokasi di sisi barat kawasan cagar budaya Pura Taman Ayun, Mengwi, pemerintah daerah tengah merancang konsep penyajian yang jauh lebih menarik dan modern.
Proyek pemugaran fisik yang telah rampung tersebut tidak sekadar bertujuan untuk memperindah struktur bangunan, melainkan menjadi pijakan awal dalam menghidupkan kembali fungsi museum. Pemerintah ingin menjadikan Museum Yadnya sebagai ruang budaya yang aktif, edukatif, serta memberikan dampak dan manfaat langsung bagi masyarakat maupun wisatawan.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Kabupaten Badung, I Gede Sukadana, mengungkapkan bahwa pihak Disbud telah merencanakan tata kelola baru agar museum ini tampil lebih dinamis dan tidak terkesan kaku. “Pemanfaatan Museum Yadnya sama seperti museum pada umumnya, kita sudah melakukan studi tiru ke museum lain. Kita berharap di Museum Yadnya ada hal baru yang ditampilkan,” ujar I Gede Sukadana pada Senin (3/8).
Untuk mewujudkan museum yang atraktif, konsep pameran yang disajikan tidak hanya sebatas memajang benda-benda sarana upakara secara statis. Pengunjung nantinya dapat menyaksikan seluruh prosesi adat dan keagamaan Hindu di Bali secara komprehensif melalui pemanfaatan teknologi audio visual dan rekaman video edukatif.
Rancangan tata pamer ini difokuskan pada pemahaman menyeluruh mengenai Panca Yadnya, mulai dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, hingga Bhuta Yadnya. “Museum Yadnya itu bagaimana menampilkan tidak hanya bentuk, tapi juga proses dalam bentuk video, rangkaian upacaranya, hingga detail bentuk upacaranya seperti apa. Intinya mencakup Panca Yadnya, dari Pitra Yadnya sampai Manusa Yadnya. Saat ini kami sudah berproses untuk menyiapkan semua itu,” jelasnya.
Dari sisi tata kelola operasional, Pemkab Badung akan menempatkan fasilitas ini di bawah unit pelaksana teknis khusus. Langkah ini diambil agar pemeliharaan dan pengembangan program museum dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. “Nanti kita jabarkan detailnya bersama kepala museum. Museum akan dikelola di bawah UPT. Nanti ada dua UPT yang mengelola, yakni Museum Perdamaian dan Museum Yadnya,” tambah Sukadana.
Ke depan, Museum Yadnya diproyeksikan menjadi pusat informasi utama atau miniatur budaya Badung. Posisi strategisnya yang berdekatan dengan Pura Taman Ayun sebagai salah satu warisan budaya dunia yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara akan dimanfaatkan secara optimal melalui skema kolaborasi lintas pengelola.
“Dengan hadirnya konsep baru yang interaktif dan atraktif ini, kami harapkan Museum Yadnya tak hanya menjadi destinasi edukasi budaya bagi generasi muda lokal, tetapi juga menjadi daya tarik wisata religi dan edukatif yang semakin memperkuat pesona Kabupaten Badung di mata dunia,” pungkasnya.(Parwata/balipost)










