
DENPASAR, BALIPOST.com – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi capaian Provinsi Bali yang berhasil masuk tiga besar provinsi dengan ketahanan pangan terbaik di Indonesia. Capaian tersebut dinilai menjadi bukti keberhasilan sinergi pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Hanif saat Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Selasa (7/7).
Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan Nasional yang diterbitkan Badan Pangan Nasional, Bali memperoleh nilai 79,89 dan menempati peringkat ketiga nasional, berada di bawah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
“Provinsi Bali menjadi provinsi tiga terbaik yang memiliki ketahanan pangan paling tangguh di seluruh Indonesia dengan nilai indeks 79,89. Ini merupakan hasil kerja keras yang serius dari Bapak Gubernur, para bupati, wali kota, serta seluruh jajaran pemerintah daerah dalam menghadirkan ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan,” kata Hanif.
Tak hanya di tingkat provinsi, Hanif juga mengungkapkan Kabupaten Badung menjadi kabupaten dengan ketahanan pangan terbaik di Indonesia. Menurutnya, capaian tersebut memperlihatkan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pangan meski Bali dikenal sebagai daerah yang bertumpu pada sektor pariwisata.
Ia menilai keberhasilan menjaga ketahanan pangan harus dibarengi dengan pengelolaan lingkungan yang baik, terutama penanganan sampah. Menurut Hanif, kedua sektor tersebut saling berkaitan karena sampah organik yang dikelola dengan benar dapat diolah menjadi kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung produktivitas pertanian.
“Ketahanan pangan tidak terlepas dari persoalan pengelolaan sampah. Sampah organik yang dipilah bisa menjadi pupuk, pakan ternak, dan memberikan manfaat bagi sektor pertanian. Sementara sampah anorganik memiliki nilai ekonomi jika didaur ulang,” ujarnya.
Hanif menyebut Bali menghasilkan sekitar 3.500 ton sampah setiap hari. Karena itu, gerakan memilah sampah dari sumber menjadi langkah penting agar volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pangan dan lingkungan.
Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Bali yang sejak April 2025 mendeklarasikan Gerakan Bali Bebas Sampah dan terus memperkuat implementasinya melalui gerakan pilah sampah. Menurutnya, Bali menjadi provinsi pertama di Indonesia yang secara masif menggerakkan masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah tangga.
“Bali adalah wajah pariwisata Indonesia. Keberhasilan menjaga ketahanan pangan harus dibarengi dengan keberhasilan menjaga kebersihan lingkungan. Jika Bali mampu menjadi contoh dalam pengelolaan sampah, maka daerah-daerah lain di Indonesia juga akan terdorong mengikuti,” katanya.
Hanif mengajak seluruh pemerintah kabupaten/kota, desa, desa adat, sekolah, pelaku usaha, hingga masyarakat untuk terus membangun budaya memilah sampah secara konsisten. Menurutnya, perubahan perilaku memang tidak bisa terjadi dalam waktu singkat, namun harus dilakukan terus-menerus agar menjadi kebiasaan masyarakat.
“Kalau tidak dimulai dari sekarang, perubahan itu tidak akan pernah terjadi. Bali memiliki peluang besar menjadi contoh nasional dalam mewujudkan ketahanan pangan sekaligus pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujarnya. (Suardika/balipost)










