
DENPASAR, BALIPOST.com – Sistem pengelolaan sampah berbasis sumber yang dijalankan warga Banjar Adat Saraswati, Desa Kesiman Petilan, dinilai berpotensi menjadi model penanganan sampah di tingkat banjar di Kota Denpasar. Penilaian itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau praktik pemilahan sampah yang dilakukan warga setempat, Kamis (5/3).
Di lingkungan banjar tersebut, sebanyak 76 kepala keluarga telah menerapkan pemilahan sampah langsung dari rumah tangga. Sampah organik diolah di rumah menggunakan komposter, sementara sampah bernilai ekonomis disalurkan ke bank sampah dan residu yang tersisa dikelola melalui sistem swakelola desa.
Hanif Faisol menilai keterlibatan warga sejak tahap awal pengelolaan menjadi kunci keberhasilan sistem penanganan sampah. “Tentu ini langkah baik dan patut dicontoh oleh wilayah Banjar lainnya. Saya lihat rumah warga juga sudah menerapkan pola pengolahan sampah dari sumber ini,” ungkapnya.
Menurutnya, partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak rumah tangga merupakan komponen penting agar sistem pengolahan sampah berjalan efektif dan berkelanjutan.
Kelian Banjar Adat Saraswati, Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada menjelaskan, program tersebut telah berjalan konsisten selama dua bulan terakhir. Seluruh rumah tangga di banjar diberikan komposter bag secara gratis untuk mengolah sampah organik.
“Kami memberikan composter bag ke semua rumah di banjar secara gratis. Lalu selanjutnya kami beri tantangan, agar sampah organik jangan keluar rumah,” tutur Widiada yang juga Koordinator Eling Ring Pertiwi.
Ia menjelaskan, sekitar 60–70 persen sampah rumah tangga merupakan sampah organik yang dapat diolah langsung di rumah. Sementara sampah yang memiliki nilai ekonomis disetor ke bank sampah, dan residu yang tidak dapat dimanfaatkan hanya sekitar 3–7 persen dari total sampah.
Program ini juga didukung komunitas pengelola sampah Eling Ring Pertiwi yang sebelumnya berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Denpasar dalam pengelolaan sampah pada Denpasar Festival 2025 dan D’Tik Festival 2026.
Sebelum meninjau Banjar Saraswati, rombongan juga melihat proses pengolahan sampah di TPST Tahura I yang berada di sisi barat TPA Suwung. Di lokasi tersebut dilakukan pemrosesan sampah organik maupun anorganik.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, pemerintah kota terus mendorong penerapan pemilahan sampah berbasis sumber sebagai bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir. “Kami dari Pemkot Denpasar juga sangat mengapresiasi semangat warga disini untuk menjalankan program pemilahan berbasis sumber sampah ini,” kata Jaya Negara. (Widiastuti/bisnisbali)









