Salah satu pedagang bahan kebutuhan pokok di Unit Pasar Kapal, Badung. Jelang hari raya Kuningan, harga bahan pokok mengalami kenaikan. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Badung mencatat dinamika ekonomi yang cukup signifikan pada awal tahun 2026. Berdasarkan rilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) terbaru, wilayah Kabupaten Badung mencatatkan tingkat inflasi bulanan (month-to-month) tertinggi di Bali pada bulan Februari 2026, yakni sebesar 1,04 persen.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Badung, Anak Agung Sagung Rosyawati, mengungkapkan meskipun inflasi bulanan berada di angka tertinggi, tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date) Badung justru tercatat paling rendah di Bali, yaitu sebesar 0,25 persen. Demikian pula dengan inflasi tahunan (year-on-year) yang terjaga di angka 3,06 persen.

Menurutnya, kenaikan harga pada Februari 2026 dipicu oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem dan peningkatan permintaan menjelang bulan suci Ramadhan. Komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah menjadi penyumbang andil inflasi yang dominan.

“Kenaikan harga cabai disebabkan oleh melandainya pasokan akibat cuaca yang memicu peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Hal serupa terjadi pada bawang merah dan bawang putih, di mana musim hujan sejak Oktober telah menurunkan produksi di daerah sentra seperti Bangli, Tabanan, hingga luar daerah seperti Bima dan Brebes,” jelas Rosyawati, pada Jumat (6/3).

Baca juga:  Di Tengah Ketidakpastian Global, BRI Optimis Jaga Pertumbuhan Berkelanjutan

Selain bumbu dapur, komoditas pangan hewani dan protein juga mengalami tekanan harga. Daging ayam ras mengalami kenaikan akibat tingginya permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah libur sekolah usai, sementara pasokan bibit ayam (day old chicken) dari pemerintah berkurang. Sektor perikanan, seperti ikan teri dan tongkol, juga terdampak oleh cuaca ekstrem yang meningkatkan risiko nelayan untuk melaut sehingga pasokan terbatas.

“Kenaikan harga juga terlihat pada komoditas non-pangan, seperti emas perhiasan yang mengikuti tren harga dunia, serta tarif angkutan udara akibat normalisasi harga tiket pasca kebijakan diskon libur Natal dan Tahun Baru,” ungkapnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Badung melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah menyiapkan serangkaian langkah mitigasi. Sagung Rosyawati memaparkan bahwa Dinas Pertanian dan Pangan telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp4.435.875.200 pada tahun 2026 untuk meningkatkan produksi beras, cabai, dan bawang merah.

“Kami juga merancang gerakan menanam cabai secara masif dan memperkuat kerja sama dengan Bulog Bali serta BUMD dari daerah penghasil seperti Buleleng, Bangli, dan Tabanan untuk menjamin ketersediaan stok pangan,” terangnya.

Baca juga:  Sekda Dewa Made Indra Jabarkan Strategi Lakukan Percepatan Penurunan Stunting

Guna menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, Pemkab Badung secara rutin melakukan pemantauan harga harian dan berkolaborasi dengan Satgas Pangan Polres Badung untuk mengawasi distributor agar tidak terjadi penimbunan barang.

Sebagai aksi nyata, Gerakan Pangan Murah telah dilaksanakan pada pertengahan Februari lalu. Selanjutnya, masyarakat dapat memanfaatkan Operasi Pasar Murah yang dijadwalkan akan kembali digelar pada tanggal 10 hingga 12 Maret 2026 mendatang.

“Kami akan terus melakukan koordinasi teknis, termasuk melalui rapat High Level Market (HLM) TPID Kabupaten Badung pada 5 Maret nanti untuk memastikan langkah-langkah yang diambil tepat sasaran,” katanya.

Di sisi lain, Wabup Badung Bagus Alit Sucipta memberikan apresiasi atas kinerja TPID yang berhasil menjaga stabilitas ekonomi. Sepanjang tahun 2025, inflasi Kabupaten Badung tercatat sebesar 2,37 persen tetap berada dalam rentang sasaran 2,5 ± 1 persen, sekaligus lebih rendah dari angka inflasi tingkat provinsi maupun nasional.

“Capaian ini menunjukkan bahwa koordinasi dan langkah pengendalian yang kita lakukan berjalan efektif. Namun kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan, terutama menghadapi potensi kenaikan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional,” ujarnya.

Baca juga:  WN Malaysia Teratas Kunjungi Indonesia, Kuliner Khas Jiran Potensial Digarap

Berdasarkan data BPS per 2 Maret 2026, inflasi Februari 2026 di Badung tercatat 1,04 persen (month to month), dengan angka year on year sebesar 3,06 persen. Angka ini memposisikan Badung sebagai wilayah dengan inflasi terendah dibandingkan Kabupaten/Kota lain di Bali.

Kenaikan harga pada periode ini dipicu oleh komoditas seperti cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, tomat, minyak goreng, bawang merah, dan beras. Selain faktor cuaca yang mempengaruhi pasokan, lonjakan permintaan menjelang Ramadhan menjadi faktor pendorong utama.

Sebagai langkah konkret, Pemkab Badung bersama TPID akan memperketat pemantauan harga, memastikan kelancaran distribusi, serta mengoptimalkan operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM). Sebagai bentuk perlindungan daya beli, Pemkab Badung juga menyalurkan bantuan stimulus sebesar Rp 2 jita per KK bagi umat Muslim yang merayakan Idul Fitri.

Wabup menegaskan kolaborasi lintas sektor adalah kunci stabilitas ekonomi daerah. “Kami berharap koordinasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, serta seluruh pemangku kepentingan dapat terus diperkuat agar stabilitas harga tetap terjaga dan daya beli masyarakat tetap terlindungi,” tambahnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN