Pantai di Ketapang Lampu, Desa Pengambengan, mengalami abrasi hingga merusak rumah-rumah warga. Hanya tersisa bangunan kantor Pos AL Pengambengan. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Abrasi di Ketapang Lampu, Desa Pengambengan, belakangan semakin parah. Sejumlah rumah bahkan sudah mengalami kerusakan parah lantaran daratan tergerus air laut. Sementara, pemilik rumah memilih pindah dari rumah mereka.

Satu-satunya bangunan yang masih bertahan di ujung pantai dekat Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan itu adalah kantor Pos Angkatan Laut (Pos AL) Pengambengan.

Permukiman yang sebelumnya jauh dari pantai itu, kini sudah sangat dekat. Bahkan jalan yang baru diperbaiki dengan rabat beton, meskipun posisinya lebih tinggi dari dasar pantai juga terancam abrasi.

Pembina Indonesia Local Resource Initiative (ILRI), M. Sauki mengatakan, dampak abrasi di kawasan pantai yang merupakan pemukiman warga Pengambengan itu kini terancam.

Baca juga:  Disetujui, Pemprov Naikkan Penyertaan Modal ke BPD Bali Jadi Rp 50 M

Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, sepanjang hampir satu kilometer daratan pantai hilang. Bahkan sejumlah warga yang masih bertahan, kini telah pindah lantaran rumah mereka hancur. Satu-satunya yang masih tersisa kantor Pos AL Pengambengan dan itupun harus dipasangi beton-beton pemecah ombak.

“10 tahun lalu, kantor Pos AL masih jauh dari pantai, termasuk pemukiman warga. Sekarang sudah sangat dekat. Semestinya ini menjadi perhatian, terlebih sekarang jalan sudah diperbaiki,” ujarnya, Minggu (28/6).

Sekitar pantai tersebut juga berdiri bangunan lampu mercusuar yang menjadi patokan nelayan di Selat Bali penunjuk arah PPN Pengambengan. Saat ini PPN Pengambengan yang sudah masuk Proyek Strategis Nasional (PSN) akan dilakukan pengembangan salah satunya perluasan daratan untuk pelabuhan.

Baca juga:  Gelombang Tinggi di Pebuahan Lenyapkan Jalan

Pemerintah juga harus memperhatikan kondisi kawasan pembangunan agar tidak timpang. Di satu titik ada reklamasi, namun di dekatnya justru tanah warga hilang terdampak abrasi. Warga yang sebagian besar merupakan nelayan tradisional ini sangat tergantung dengan hasil tangkap ikan. ILRI mengharapkan dalam pembangunan nantinya juga memperhatikan kondisi pesisir sekitar yang masih satu kawasan Desa Pengambengan.

Sejumlah warga yang ditemui, Minggu (28/6), mengatakan, selain dampak abrasi pada kawasan pantai tersebut saat terjadi air laut pasang dan hujan deras, sejumlah wilayah terdampak banjir. “Kalau abrasi ini sudah puluhan tahun, beberapa warga sudah pindah. Masih ada bangunan sisa di sana,” kata Madek, warga Pengambengan.

Baca juga:  Lindungi Obyek Wisata Air Sanih, Penanganan Abrasi Disiapkan Dana Rp 3,5 Miliar

Sejak beberapa tahun lalu, warga berinisiatif menanam pohon cemara pantai yang saat ini bisa menjadi penghalang banjir rob. Warga juga berterima kasih jalan ke permukiman warga di pinggir pantai itu sudah diperbaiki dengan rabat beton tembus hingga ke mercusuar. Namun, dikhawatirkan akan cepat hancur terdampak abrasi bila tidak segera dibangun senderan. (Surya Dharma/balipost)

 

BAGIKAN