Krama laki-laki membawa tongkat kayu pulet saat pelaksanaan Tradisi Makotek di Desa Adat Munggu, Badung, Sabtu (27/6). (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Tradisi Ngerebeg atau yang lebih dikenal dengan sebutan Makotek kembali digelar oleh Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, pada Hari Raya Kuningan. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini diyakini sebagai ritual tolak bala untuk mengusir roh-roh jahat atau bhuta kala, sekaligus menjadi simbol persatuan masyarakat adat.

Dalam pelaksanaannya, krama laki-laki berjalan mengelilingi wilayah desa sambil membawa tongkat kayu pulet. Setiap kali rombongan tiba di persimpangan jalan, baik pertigaan maupun perempatan, ujung-ujung tongkat disatukan hingga membentuk formasi menyerupai piramida.

Persimpangan jalan dipercaya sebagai tempat berkumpulnya roh-roh jahat. Karena itu, prosesi Makotek dipusatkan di lokasi-lokasi tersebut. Saat tongkat-tongkat disatukan, terdengar bunyi “tek, tek, tek” yang berpadu dengan sorak-sorai krama desa. Suara tersebut diyakini mampu mengusir energi negatif dari wilayah desa.

Baca juga:  Ngerebeg di Desa Tegal Darmasaba, Diwariskan Sejak Abad ke-14

Menurut Bendesa Adat Munggu, I Made Suwinda, tradisi Makotek memiliki makna sebagai ritual penolak bala sekaligus mempererat persatuan antar pemuda di Desa Adat Munggu.

“Dua belas banjar yang ada di Desa Adat Munggu bersatu melangsungkan tradisi Makotek,” terang Jero Bendesa di sela-sela berlangsungnya Tradisi Makotek di Desa Adat Munggu, Sabtu (27/6).

Suwinda menjelaskan, penggunaan kayu pulet dalam tradisi Makotek bukan tanpa alasan. Tongkat kayu tersebut merupakan pengganti tombak yang digunakan pada masa penjajahan Belanda.

Baca juga:  Kebakaran Pasar Semat Sari, Api Muncul Dekat Toilet dan Terdengar Ledakan

Dahulu, pohon pulet banyak tumbuh di wilayah Desa Adat Munggu sehingga mudah diperoleh masyarakat. Selain itu, kayu pulet dipilih karena memiliki karakter lentur, kuat, dan tidak mudah patah.

Sifat tersebut membuatnya sangat sesuai digunakan dalam prosesi Makotek, ketika tongkat-tongkat disatukan dan saling bertumpu membentuk formasi piramida selama ritual berlangsung.

“Karena kelunturan dari pada kayu itu, maka itulah yang dipakai untuk tradisi Makotek menggantikan tombak,” jelasnya

Baca juga:  Kuningan, Ribuan Warga Desa Adat Munggu Ikuti Tradisi Makotek

Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap Saniscara Kliwon Kuningan itu diikuti oleh krama lanang atau warga laki-laki berusia 15 hingga 60 tahun dari 12 banjar adat di Desa Adat Munggu. Masing-masing peserta membawa tongkat kayu sambil mengelilingi desa sebagai bagian dari prosesi penyucian wilayah.

Selain tongkat kayu pulet, prosesi juga diiringi dengan “dipundut”-nya pusaka Perisai Tamiang Kolem dari Pura Dalem Kahyangan Wisesa serta sejumlah pusaka dari Pura Desa lan Puseh Desa Adat Munggu untuk dibawa mengelilingi desa.

“Tamiang Kolem itulah sebagai penolak bala,” papar Suwinda. (Eka Adhiyasa/balipost)

BAGIKAN