Ratusan umat ikuti tradisi Ciswak di Singaraja. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com  – Ratusan umat mengikuti tradisi Ciswak atau ritual tolak bala yang digelar di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Ling Ling Gwan Kiong Singaraja, Selasa (3/3). Tradisi ini menjadi bagian penting bagi umat untuk memohon keselamatan dan berharap kelancaran hidup di tahun Kuda Api yang diyakini penuh tantangan bagi beberapa shio.

Humas TITD Ling Ling Gwan Kiong Singaraja, Gunadi Yetial menjelaskan, pada tahun Kuda Api kali ini terdapat beberapa shio yang dinilai kurang selaras atau kurang beruntung selama setahun ke depan.

Baca juga:  Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Mulai Dijalankan, Gubernur Koster Matur Piuning di Pura Besakih

“Untuk tahun ini, shio yang mengalami ciong (kesialan) besar adalah kuda dan tikus. Sementara kelinci dan ayam mengalami ciong kecil. Empat shio ini diperkirakan menghadapi lebih banyak rintangan, baik dalam kehidupan sehari-hari, usaha, maupun kesehatan,” jelas Gunadi.

Rangkaian prosesi dimulai sejak pukul 09.00 WITA. Sejumlah umat yang mengalami ciong tampak mengikuti persembahyangan yang dipimpin rohaniawan.

Mereka memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa serta para Dewa-Dewi agar di tahun Kuda Api ini diberikan keselamatan, kesehatan, dan terhindar dari marabahaya. Usai sembahyang, peserta menjalani rangkaian ritual berupa percikan tirta, pengguntingan rambut, serta melempar lima jenis kacang-kacangan di areal halaman TITD Ling Ling Gwan Kiong Singaraja.

Baca juga:  Baris Ketok Jago Iringi Palebon Alit Yudha

“Rambut yang dipotong hanya sedikit sebagai simbol untuk membersihkan diri dan melepaskan dari hal-hal negatif,” terang Gunadi.

Selain rangkaian tersebut, sejumlah umat juga melaksanakan Ciswak dengan melepas burung ke alam bebas serta melepas ikan ke perairan sekitar sebagai simbol pelepasan kesialan dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Tradisi ini rutin digelar setiap tahun dan rata-rata diikuti 200 hingga 300 umat.

Baca juga:  Buang Orok, Dosa Tak Terampuni

Salah satu peserta, Sienly (48), mengaku sudah dua kali mengikuti tradisi Ciswak agar kehidupannya berjalan lebih baik. “Saya shio kuda. Ikut Ciswak supaya ada perubahan dan lebih baik. Ini sudah kedua kalinya ikut. Ciswak yang pertama sekitar 10 atau 12 tahun lalu, karena ciong besar,” katanya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN