Penyucian sarana Tek-tekan Nangkluk Merana dilaksanakan krama Banjar Sema pada Sabtu (7/3), di Beji Bingin, Desa Adat Kediri. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Menjelang hari raya Nyepi Tahun Caka 1948, krama Desa Adat Kediri, Kecamatan Kediri, mulai melakukan rangkaian persiapan pelaksanaan tradisi sakral Tek-tekan Nangkluk Merana. Salah satu tahapan awal yang dilakukan adalah penyucian sarana berupa okokan, kentongan, serta perangkat baleganjur yang akan digunakan saat prosesi berlangsung.

Penyucian sarana tersebut telah dilaksanakan oleh krama Banjar Sema pada Sabtu (7/3), di Beji Bingin, Desa Adat Kediri. Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan sekaligus menjaga kesakralan sarana yang dipakai dalam tradisi turun-temurun tersebut.

Baca juga:  Jelang Galungan, Warga Banjar "Buru" Daging Kerbau

Kelian Banjar Sema, I Ketut Budi Muliawan mengatakan, penyucian perlengkapan menjadi bagian penting sebelum sarana digunakan dalam rangkaian kegiatan Tek-tekan. “Perlengkapan seperti okokan, kentongan, dan perangkat baleganjur kami sucikan terlebih dahulu agar saat digunakan dalam kegiatan tek-tekan tetap terjaga kesuciannya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (8/3).

Menurutnya, tradisi tek-tekan bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi memiliki makna religius sebagai simbol penolak bala. Kegiatan ini juga menjadi momentum mempererat kebersamaan krama banjar dalam menjaga warisan leluhur. “Prosesi ini rutin kami lakukan setiap tahun menjelang Nyepi,” jelasnya.

Baca juga:  All New Honda PCX Produksi Dalam Negeri Diluncurkan di Bali

Bendesa Adat Kediri, Ida Bagus Ketut Arsana menambahkan, tradisi Tek-tekan Nangkluk Merana merupakan ritual yang dilaksanakan untuk menangkal wabah penyakit maupun serangan hama (merana) di wilayah desa. Rangkaian tradisi dijadwalkan berlangsung selama enam hari, mulai 12 hingga 17 Maret 2026.

Dalam pelaksanaannya, krama dari tujuh banjar di Desa Adat Kediri akan melakukan kegiatan ngider atau berkeliling desa sambil membunyikan okokan dan berbagai sarana tradisi lainnya. “Tradisi ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan serta keharmonisan wilayah desa menjelang hari raya Nyepi,” ujarnya.

Baca juga:  Melasti Nyepi di Karangasem Disarankan "Ngayeng"

Selain sebagai ritual sakral, kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen krama Desa Adat Kediri dalam melestarikan tradisi budaya Bali agar tetap diwariskan dari generasi ke generasi. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN