
DENPASAR, BALIPOST.com – Libur panjang Nyepi dan Lebaran atau Idulfitri 2026 tak memberi harapan banyak bagi pelaku pariwisata di Bali. Khususnya dari sisi tingkat hunian atau okupansi kamar hotel yang dinilai tidak begitu signifikan. Hal tersebut diakui Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Selasa (24/3).
Dalam moment Nyepi dan Idulfitri yang memberikan libur sepekan lebih ini, Cok Ace panggilan akrabnya mengayakan, okupansi hotel hanya naik sekitar 5 persen dibandingkan beberapa hari sebelum Nyepi. “Okupansi hotel selama libur lebaran dan kebetulan bersamaan dengan Nyepi, menunjukkan peningkatan sedikit sekitar 5 persen bila dibandingkan dengan hari-hari sebelum Nyepi. Kalau sebelumnya sekitar 55–60 persen meningkat ke 60–65 persen,” ujarnya.
Kawasan yang peningkatan okupansinya paling terasa, kata Cok Ace, yakni Nusa Dua, Seminyak, Sanur dan Ubud. Itu menjadi kawasan pariwisata unggulan di Bali. Meski demikian ia menegaskan bahwa tren positif ini tidak berlangsung lama. Memasuki April dan Mei, yang biasanya terdongkrak oleh libur Paskah dan kunjungan wisatawan mancanegara, justru tidak menunjukkan peningkatan signifikan pada tahun ini. “Kondisi ini hanya bertahan sementara saja karena memasuki bulan April dan Mei yang biasanya sedikit meningkat, karena liburan Paskah. Tapi untuk tahun ini tidak terjadi peningkatan,” katanya.
Menurut Cok Ace kondisi ini merupakan dampak situasi di Timur Tengah, yang merupakan hub wisatawan Eropa. PHRI Bali menilai situasi global tersebut turut memengaruhi arus perjalanan wisatawan, khususnya dari Eropa yang selama ini menjadi salah satu pasar utama Bali.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Bali I Putu Winastra juga mengungkapkan konflik antara Amerika-Israel dengan Iran yang menciptakan situasi tidak kondusif di Timur Tengah memberi pengaruh pada pariwisata di Bali. Selain faktor keamanan yang menjadi alasan wisatawan berpergian, Timur Tengah menjadi penghubung perjalanan wisatawan Eropa ke Bali. Eropa yang menjadi pasar cukup besar bagi Bali kebanyakan datang melalui Timur Tengah.
Demikian dikatakannya, tidak sedikit wisatawan mancanegara yang membatalkan kunjungannya ke Bali. “Rencana wisatawan yang Bulan Maret sudah batal, bahkan ada yang Bulan April, Mei dan Agustus juga batal,” katanya.
Untuk mengalihkan pasar wisatawan dengan menyasar negara lainnya, Winastra mengatakan bukan hal yang mudah dilakukan. Membutuhkan waktu yang lama dan strategi untuk menyasar negara-negara lainnya. (Widiastuti/balipost)










