
SINGASANA, BALIPOST.com – Setiap daerah di Kabupaten Tabanan memiliki tradisi khas dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Jika di wilayah Kecamatan Kediri dikenal tradisi Okokan, maka krama Desa Adat Poh Gending, Desa/Kecamatan Penebel memiliki tradisi Siat Geni yang digelar saat malam pangerupukan.
Tradisi yang juga dikenal dengan sebutan Perang Sambuk ini dilakukan dengan saling melempar sabut kelapa yang dibakar antar pemuda desa. Prosesi digelar usai pengarakan ogoh-ogoh, tepat saat sandikala di perempatan Desa Adat Poh Gending.
Bendesa Adat Poh Gending, I Putu Adi Praja, Senin (16/3), mengatakan, tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang tetap dijaga hingga kini oleh generasi muda desa setempat. “Tradisi Siat Geni ini sudah ada sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur kami. Sampai sekarang tetap dijaga oleh generasi muda desa,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna simbolis sebagai upaya menetralisir unsur negatif menjelang Hari Raya Nyepi. Api dari sabut kelapa yang digunakan diyakini sebagai lambang kekuatan untuk mengusir butha kala.“Api dari sabut kelapa dalam tradisi ini dimaknai sebagai simbol untuk menetralisir butha kala atau energi negatif sebelum memasuki Hari Raya Nyepi,” jelasnya.
Sebelum prosesi dimulai, dua gumpalan sabut kelapa atau disebut jomprot terlebih dahulu dibakar sebagai tanda dimulainya tradisi. Para pemuda kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yakni wong kaja (warga di utara jalan) dan wong kelod (warga di selatan jalan). Masing-masing kelompok biasanya berjumlah sekitar 20 orang.
Para peserta hanya mengenakan kamen dengan cara mebulet ginting. Saat aba-aba diberikan Bendesa Adat, tabuhan gong baleganjur mengiringi jalannya prosesi. Kedua kelompok kemudian saling melempar sabut kelapa yang menyala.
Meski terlihat sengit, prosesi tersebut jarang menimbulkan cedera. Bahkan para peserta yang tidak mengenakan baju hampir tidak pernah mengalami luka bakar serius. “Walaupun sabut kelapa yang dilempar dalam kondisi menyala dan peserta tidak mengenakan baju, selama ini tidak pernah ada yang mengalami luka bakar serius,” ungkap Adi Praja.
Ia juga mengungkapkan bahwa tradisi Siat Geni sempat tidak dilaksanakan sekitar tahun 1980. Saat itu krama desa melalui paruman memutuskan menghentikan sementara tradisi tersebut karena dianggap berisiko. Sebagai gantinya digelar pawai obor dan pawai kulkul bambu. Namun setelah beberapa waktu, masyarakat justru merasakan suasana desa terasa berbeda.
“Saat tradisi ini tidak dilaksanakan, banyak krama merasa suasana desa seperti suwung dan ada perasaan tidak enak yang berkepanjangan,” katanya.
Melalui paruman desa, krama akhirnya sepakat menghidupkan kembali tradisi tersebut. “Karena itu melalui paruman desa, krama memutuskan menghidupkan kembali Siat Geni dan sejak saat itu rutin dilaksanakan setiap malam pengerupukan,” ujarnya.
Setelah prosesi berlangsung sekitar 10 menit, Bendesa Adat bersama pecalang menghentikan kegiatan tersebut. Kedua kelompok kemudian berkumpul, saling bersalaman, dilanjutkan dengan natab banten pangerupukan serta metirta sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki Hari Raya Nyepi. (Dewi Puspawati/balipost)










