Prosesi Ngerebek Keris Ki Baru Gajah, tradisi Kuningan di Kediri. (BP/Istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Suasana Hari Raya Kuningan di Desa Adat Kediri, Kecamatan Kediri, diwarnai tradisi sakral Ngerebeg Pusaka Keris Ki Baru Gajah, Sabtu (27/6). Ratusan krama dari enam banjar adat berjalan kaki sejauh 14 kilometer menuju Pura Luhur Pakendungan sebagai bentuk permohonan keselamatan sekaligus upaya nangluk merana atau menangkal wabah dan berbagai energi negatif.

Iring-iringan dimulai dari Puri Kediri dengan membawa berbagai sarana upacara, mulai tombak, kober hingga perlengkapan ritual lainnya.

Di sepanjang perjalanan menuju Pura Luhur Pakendungan, rombongan diiringi tabuh baleganjur yang menambah semarak sekaligus nuansa sakral prosesi tersebut.

Baca juga:  Empat Dekade Berjualan, Warung Muslim Lama Adaptasi Pembayaran Digital lewat Merchant QRIS

Salah seorang tetua Puri Kediri, I Gusti Ngurah Gede Sudiarta, menjelaskan tradisi ini berakar dari perjalanan spiritual Danghyang Dwijendra pada abad ke-15.

Saat menyebarkan ajaran Hindu pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Klungkung, Danghyang Dwijendra kerap melakukan tirta yatra ke Pura Luhur Pakendungan dan Pura Luhur Tanah Lot.

Dari perjalanan spiritual itulah, Keris Ki Baru Gajah ditinggalkan sebagai pusaka yang disertai sabda agar masyarakat Kediri melaksanakan upacara ngerebeg setiap enam bulan sekali. Tujuannya untuk menghindarkan wilayah dari berbagai wabah, baik penyakit maupun serangan hama pada tanaman pangan.

Baca juga:  Desa Adat Bebalang Gelar Lomba Bahasa Bali Libatkan 120 Siswa SD

“Sabda tersebut pada intinya menyatakan apabila tradisi ngerebeg tidak dilaksanakan, maka wilayah akan tertimpa wabah,” ujar Sudiarta, Minggu (28/6).

Karena itu, tradisi yang rutin digelar setiap Tumpek Kuningan ini diyakini sebagai upaya menjaga keseimbangan alam dan menetralisir energi buruk yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

Setibanya di Pura Luhur Pakendungan, Keris Ki Baru Gajah dilinggihkan pada bangunan meru khusus selama rangkaian pujawali yang berlangsung selama tiga hari. Menurut Sudiarta, seluruh sarana upacara yang dihaturkan kepada pusaka tersebut dibuat sama dengan sesaji di Pura Luhur Pakendungan.

Baca juga:  Digelar 5 Tahun Sekali, Ritual Ngerebeg Desa Adat Kubutambahan

“Karena sarana upacara di Pura Luhur Pakendungan sama dengan yang dihaturkan untuk pusaka tersebut, sehingga sesajinya kembar,” jelasnya.

Meski menjadi pratima Pura Luhur Pakendungan, tanggung jawab perawatan Keris Ki Baru Gajah sepenuhnya berada di Puri Kediri. Pusaka tersebut disimpan di Gedong Simpen Merajan Agung Puri Kediri dan hanya dikeluarkan pada momen-momen tertentu, seperti Tumpek Landep dan saat pujawali, demi menjaga kesuciannya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN